
Pantau - Konsultan senior obstetri dan ginekologi di MGM Malar, Chennai, India, Dr. Kanaga Lakshmi K mengungkapkan bahwa wanita cenderung mengalami peningkatan lemak hati lebih cepat setelah memasuki usia sekitar 45 tahun atau masa perimenopause hingga menopause.
Ia menjelaskan perubahan tersebut berkaitan dengan penurunan kadar hormon estrogen yang memiliki peran penting dalam mengatur distribusi dan metabolisme lemak di dalam tubuh.
“Setelah usia 45 tahun, banyak wanita memasuki perimenopause atau menopause, di mana kadar estrogen menurun secara signifikan. Jadi, estrogen memainkan peran pelindung yang sangat penting dalam bagaimana lemak didistribusikan dan dimetabolisme,” kata Kanaga dalam siaran Hindustan Times, Senin (06/04/2026).
Penurunan Estrogen Picu Penumpukan Lemak
Kanaga menjelaskan hormon estrogen tidak hanya memengaruhi sistem reproduksi, tetapi juga berperan dalam mengatur distribusi lemak dalam tubuh.
Ketika kadar estrogen menurun, lemak yang sebelumnya tersimpan di area perifer seperti pinggul dan paha akan bergeser ke area visceral di sekitar perut dan organ dalam.
Pergeseran lemak tersebut dapat memicu gangguan metabolisme termasuk meningkatnya resistensi insulin.
“Resistensi insulin meningkat, dan ini pada gilirannya mendorong pengendapan lemak di hati. Inilah sebabnya mengapa risiko perlemakan hati meningkat tajam pada wanita selama perimenopause dan setelah menopause,” ujarnya.
Perlemakan Hati Sering Tanpa Gejala
Kanaga menambahkan bahwa kondisi perlemakan hati sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal sehingga sulit terdeteksi.
Banyak wanita tidak menyadari kondisi tersebut karena perubahan yang terjadi sering kali tidak terlihat secara langsung.
Ia juga menekankan bahwa sebelum menopause wanita relatif lebih terlindungi dibandingkan pria karena efek perlindungan dari hormon estrogen.
“Setelah menopause, risikonya tidak hanya menyamai tetapi bahkan dapat melampaui pria, meningkatkan kerentanan terhadap komplikasi metabolisme dan penyakit kardiovaskular,” katanya.
Beberapa indikator yang dapat membantu mendeteksi perlemakan hati sejak dini antara lain peningkatan lingkar perut meskipun berat badan stabil, kelelahan berkepanjangan, serta peningkatan ringan enzim hati.
Selain itu kondisi seperti riwayat polycystic ovary syndrome (PCOS), diabetes, dan kadar kolesterol tinggi juga dapat meningkatkan risiko perlemakan hati.
Kanaga menegaskan bahwa perlemakan hati tidak hanya berkaitan dengan kesehatan hati, tetapi juga menjadi tanda bahaya bagi gangguan metabolisme yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan stroke.
Ia menyarankan masyarakat untuk menjaga pola makan seimbang yang kaya protein, melakukan latihan kekuatan secara rutin, serta mengombinasikannya dengan olahraga aerobik.
Selain itu menjaga berat badan ideal, mengatur pola tidur, mengelola stres, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin juga penting untuk mencegah dan mengendalikan kondisi tersebut.
- Penulis :
- Aditya Yohan








