
Pantau - Resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) menjadi ancaman serius bagi kesehatan global di tengah maraknya penggunaan antibiotik tanpa resep dan tidak sesuai aturan, sehingga terapi fag mulai dilirik sebagai alternatif pengobatan masa depan.
Badan Kesehatan Dunia atau WHO mencatat AMR bakteri menyebabkan 1,27 juta kematian global pada 2019 dan berkontribusi terhadap 4,95 juta kematian lainnya.
Di Indonesia, diperkirakan terdapat 133.800 kematian yang berkaitan dengan AMR pada tahun yang sama.
Dalam telaah yang ditulis dr Dito Anurogo MSc PhD, Sabtu (16/5), disebutkan kebiasaan masyarakat menggunakan antibiotik secara sembarangan menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya resistensi bakteri terhadap obat.
“Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa dari 22,1 persen masyarakat yang menggunakan antibiotik oral dalam 1 tahun terakhir, 41 persen di antaranya memperoleh antibiotik tanpa resep,” tulisnya.
Terapi Fag Jadi Alternatif Pengobatan
Terapi fag merupakan metode pengobatan menggunakan bakteriofag atau virus yang secara khusus menyerang dan membunuh bakteri.
Metode ini dinilai berpotensi menjadi solusi di tengah semakin banyaknya bakteri yang kebal terhadap antibiotik.
Menurut dr Dito, terapi klinis menggunakan fag memerlukan standar keamanan yang ketat agar tidak membawa gen toksin maupun gen resistensi antibiotik.
“Terapi klinis membutuhkan fag yang aman, stabil, terkarakterisasi, dan tidak membawa gen toksin atau gen resistensi antibiotik,” ungkapnya.
Ia menjelaskan pendekatan terapi fag juga dianggap lebih presisi karena hanya menyerang bakteri tertentu tanpa merusak bakteri baik dalam tubuh.
Pemerintah Perkuat Strategi Pengendalian AMR
Kementerian Kesehatan RI bersama WHO telah meluncurkan Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba Sektor Kesehatan 2025-2029.
Strategi tersebut mencakup penguatan deteksi resistensi, penggunaan antibiotik secara bijak, hingga perluasan edukasi kepada masyarakat.
Pendekatan One Health juga diterapkan dengan menghubungkan kesehatan manusia, hewan, pangan, dan lingkungan dalam pengendalian AMR.
Pemerintah turut mengingatkan masyarakat agar tidak membeli antibiotik tanpa resep dokter demi mencegah meningkatnya kasus resistensi antimikroba di Indonesia.
- Penulis :
- Aditya Yohan





