
Pantau - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menilai narasi yang beredar di media sosial dapat memengaruhi keinginan wisatawan untuk berkunjung serta menentukan aktivitas yang ingin dilakukan saat berada di sebuah destinasi wisata.
Narasi dan Visual Dinilai Jadi Kekuatan Promosi Wisata
Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Publik dan Media Kemenpar Apni Jaya Putra mengatakan pelaku industri pariwisata dan wartawan memiliki peran penting dalam membangun narasi yang akurat dan tervalidasi untuk mendukung promosi destinasi.
"Kita pelaku industri pariwisata dan wartawan pariwisata sudah tugasnya untuk mengorkestrasikan nilai-nilai narasi yang sejujurnya terbukti, tervalidasi dan benar," kata Apni dalam temu media di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Ia menjelaskan manusia secara alami lebih mudah menerima informasi berbasis visual dibandingkan bentuk informasi lainnya.
Menurut dia, kekayaan sejarah, budaya, dan alam Indonesia dapat dipromosikan secara lebih imersif dan efisien apabila dipadukan dengan visual yang menarik serta narasi yang tepat.
Apni menambahkan cerita rakyat maupun kepercayaan lokal yang disisipkan dalam narasi dapat meningkatkan daya tarik sebuah destinasi wisata.
AI dan Media Sosial Dorong Perubahan Perilaku Wisatawan
Apni menilai penggunaan Artificial Intelligence (AI) akan membuat penyampaian narasi menjadi lebih menarik dan dapat disesuaikan dengan kata kunci yang diminati wisatawan.
"Di mana pun tempat, kita selalu punya cerita dan destinasi. Makanya perpaduan antara storytelling naratif dengan artificial intelligence (AI) itu akan menjadi sebuah kekuatan," ujarnya.
Ia mengatakan strategi tersebut berpotensi menarik lebih banyak wisatawan, khususnya generasi muda yang kini banyak mencari referensi perjalanan melalui platform seperti Instagram dan TikTok.
"Hari ini keputusan untuk pergi ke destinasi tidak ditentukan oleh Google, jadi mereka (generasi muda) membantu ayahnya misalnya mencari tempat makan, itu di TikTok, dan mesin AI dengan luar biasa akan menyajikan secara cepat kebutuhan anda," ungkapnya.
Sementara itu, Brand Strategist sekaligus Founder Konner Advisory Silih Agung Wasesa menilai pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk menggunakan jasa influencer terkenal dalam mempromosikan pariwisata Indonesia.
Menurut dia, pengguna media sosial dengan jumlah pengikut yang kecil tetap memiliki peluang menjadi viral apabila mampu menghadirkan narasi yang menarik melalui konten video singkat.
"Sekarang muncul yang namanya Nano. Mikro sempat ada, sekarang namanya Nano. Nano Influencer, nano ini keunggulannya apa? Mereka adalah SJW, SJW yang kesannya orang biasa-biasa aja, itu yang akan meningkatkan pariwisata Indonesia dan mereka bergerak dengan luar biasa," katanya.
Kemenpar meyakini perpaduan narasi yang kuat, teknologi AI, dan peran kreator konten di media sosial dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan daya tarik destinasi wisata Indonesia di mata wisatawan.
- Penulis :
- Aditya Yohan





