
Pantau - Kesepian kronis dan isolasi sosial dapat mempengaruhi kesehatan otak dengan berdampak pada memori, fungsi kognitif, hingga meningkatkan risiko gangguan neurologis jangka panjang, menurut para ahli.
Kesepian Tingkatkan Hormon Stres dan Ganggu Fungsi Otak
Dr. Kunal Bahrani, Ketua Grup Neurologi Rumah Sakit Yatharth di India, mengatakan interaksi sosial yang teratur berperan penting dalam menjaga fungsi otak, mengatur emosi, serta mempertahankan respons stres yang sehat.
Ia mengungkapkan, "Ketika seseorang mengalami kesepian yang berkepanjangan, otak dapat tetap dalam keadaan kewaspadaan tinggi, yang menyebabkan peningkatan kadar hormon stres seperti kortisol," katanya.
Ia menambahkan, "Seiring waktu, ini dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, memori, dan suasana hati," ujarnya.
Menurut Bahrani, berbagai penelitian menunjukkan kesepian kronis berkaitan dengan perubahan pada area otak yang berperan dalam emosi, pembelajaran, dan pengambilan keputusan.
Ia juga mengatakan, "Hubungan sosial bagi otak sama pentingnya dengan olahraga bagi tubuh," katanya.
Bahrani menambahkan, "Percakapan, pengalaman bersama, dan hubungan terus menerus mengaktifkan berbagai jaringan kognitif. Ketika interaksi tersebut berkurang, otak menerima lebih sedikit stimulasi," ujarnya.
Isolasi Sosial Dikaitkan dengan Risiko Demensia
Ahli neurologi Apollo Speciality Hospitals di Chennai, Dr. Sreenivas UM, menyebut penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan antara kesepian dengan meningkatnya risiko demensia.
Ia mengatakan, "Studi-studi terbaru menunjukkan bahwa kesepian dapat menghasilkan perubahan struktural di otak, khususnya di wilayah yang terlibat dalam memori, penalaran, berpikir, dan pengambilan keputusan," katanya.
Menurut Sreenivas, isolasi sosial juga dapat memperburuk gejala, memperlambat pemulihan, serta meningkatkan risiko kekambuhan pada penderita stroke, epilepsi, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, maupun demensia.
Para ahli menegaskan kesepian bukan kondisi permanen karena otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berubah.
Mereka menyarankan membangun hubungan sosial yang bermakna, mempelajari keterampilan baru, menekuni hobi, rutin berolahraga, dan aktif dalam kegiatan komunitas sebagai upaya menjaga kesehatan kognitif serta neurologis dalam jangka panjang.
- Penulis :
- Aditya Yohan





