
Pantau - Penelitian dari Binghamton University, New York, Amerika Serikat, menemukan kebiasaan mengambil screenshot atau tangkapan layar berkaitan dengan gangguan ingatan karena seseorang cenderung mengingat lebih sedikit informasi yang disimpan melalui cara tersebut.
Penelitian berjudul Digital Amnesia: The Aftermath of a Screenshot menemukan orang yang mengambil gambar justru mengingat lebih sedikit dibandingkan mereka yang hanya melihat gambar sebelum melanjutkan aktivitas.
Para peneliti menyebut fenomena tersebut sebagai photo-taking impairment effect atau efek gangguan akibat mengambil foto.
Penulis penelitian Sophia Fabrizio mengatakan tangkapan layar tetap dapat memberikan manfaat apabila gambar tersebut secara aktif dilihat kembali setelah disimpan.
"Jika Anda tidak secara aktif meninjau kembali gambar-gambar tersebut sebagai petunjuk, kemungkinan besar gambar itu tidak akan memberikan manfaat bagi ingatan," ujar Sophia Fabrizio.
Dalam penelitian tersebut, sejumlah mahasiswa diperlihatkan berbagai karya seni berupa foto, lukisan, dan sketsa sebelum diminta mengambil screenshot terhadap beberapa gambar.
Peserta kemudian diminta memilih satu dari tiga pilihan untuk menentukan karya seni yang sebelumnya telah mereka lihat dengan menggunakan gambar-gambar yang memiliki kemiripan sangat dekat dengan karya aslinya.
Hasil penelitian menunjukkan peserta tidak mampu mengingat gambar yang mereka ambil melalui screenshot sebaik gambar yang hanya mereka lihat.
Peserta bahkan lebih kecil kemungkinannya mengingat bahwa mereka pernah mengambil screenshot terhadap gambar tersebut dan lebih mampu mengenali gambar yang tidak mereka simpan.
Para peneliti menyoroti sejumlah teori yang dapat saling berkontribusi terhadap fenomena tersebut, termasuk divided attention, cognitive offloading, dan attentional disengagement.
Teori divided attention menjelaskan tindakan mengambil foto atau screenshot dapat mengalihkan perhatian dan sumber daya kognitif yang seharusnya digunakan otak untuk membentuk ingatan.
Sementara itu, teori cognitive offloading menyatakan seseorang cenderung tidak berusaha keras mengingat ketika mengetahui informasi telah tersimpan di tempat lain.
Penelitian menemukan peserta tetap tidak mampu mengingat dengan baik gambar yang mereka ambil melalui screenshot meskipun mengetahui gambar tersebut akan langsung dihapus dan tidak disimpan secara eksternal.
Teori attentional disengagement menjelaskan tindakan mengambil gambar juga dapat membuat seseorang keluar dari momen yang sedang dialami dan menciptakan jarak dengan pengalaman tersebut.
Para peneliti menyarankan seseorang menuliskan informasi yang ingin disimpan dibandingkan hanya mengambil screenshot karena kegiatan menulis memaksa otak memproses informasi yang hendak diingat.
Proses pengolahan informasi tersebut dapat terlewati apabila seseorang hanya mengambil screenshot dan tidak pernah melihat kembali gambar yang telah disimpan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




