HOME  ⁄  Lifestyle

Studi Menemukan Waktu Sarapan Lebih Siang Berkaitan dengan Peningkatan Risiko Kematian Dini

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Studi Menemukan Waktu Sarapan Lebih Siang Berkaitan dengan Peningkatan Risiko Kematian Dini
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Sarapan. Pexels.)

Pantau - Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Clinical Nutrition menemukan waktu mengonsumsi makanan pertama dalam sehari berkaitan dengan risiko kesehatan, dengan makan pertama setelah tengah hari dikaitkan dengan risiko kematian dini akibat berbagai penyebab 29 persen lebih tinggi.

Penelitian yang dilaporkan New York Post pada Senin (24/8) itu melibatkan lebih dari 31.000 orang dewasa berusia 40 tahun ke atas untuk melihat hubungan antara waktu mengonsumsi kalori pertama dan terakhir dengan panjang usia seseorang.

Para peserta diminta mencatat makanan yang dikonsumsi beserta waktu makannya selama periode 24 jam, sedangkan jarak antara waktu makan pertama dan terakhir disebut eating window atau jendela makan.

Hasil penelitian menunjukkan peserta yang mengonsumsi makanan pertama antara pukul 08.00–10.00 memiliki risiko kematian dini akibat berbagai penyebab 10 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang sarapan pukul 07.00–08.00.

Risiko tersebut meningkat menjadi 19 persen pada peserta yang baru mengonsumsi makanan pertama antara pukul 10.00–12.00.

Peserta yang mengonsumsi makanan pertama setelah tengah hari tercatat memiliki risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 46 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang mulai makan pukul 07.00–08.00.

Pola serupa ditemukan pada risiko kematian akibat masalah kardiovaskular seperti serangan jantung atau stroke.

Peserta berusia 50 tahun ke atas yang memiliki waktu makan pertama lebih siang juga tercatat mempunyai harapan hidup rata-rata hampir 2,5 tahun lebih pendek.

Penelitian tersebut hanya mengamati pola makan peserta dalam satu periode 24 jam sehingga sejumlah faktor lain, termasuk pola tidur dan waktu beraktivitas, dapat memengaruhi hasil penelitian.

Penulis senior penelitian Zhilei Shan mengingatkan temuan tersebut tidak dapat langsung dianggap membuktikan bahwa sarapan terlambat menyebabkan kematian secara langsung.

“Makan lebih lambat sebaiknya dipandang sebagai penanda risiko potensial, dan mungkin sebagai perilaku yang dapat diubah, bukan sebagai bukti definitif adanya hubungan sebab-akibat langsung,” ujar Shan.

Temuan tersebut menambah bukti mengenai kemungkinan hubungan antara waktu makan dan kesehatan, tetapi hubungan sebab-akibat langsung masih belum dapat dipastikan berdasarkan penelitian tersebut.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026