
Pantau - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mempercepat pemulihan sejumlah destinasi wisata terdampak bencana dengan memprioritaskan keselamatan wisatawan dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan penanganan dilakukan dengan melibatkan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, pengelola destinasi, asosiasi, pelaku industri hingga masyarakat.
"Bagi kami, prinsipnya jelas melindungi manusia terlebih dahulu, mempercepat pemulihan destinasi dan mata pencaharian masyarakat, menjaga kepercayaan wisatawan, serta membangun kembali dengan lebih aman dan tangguh," kata Widiyanti dalam Laporan Bulanan Kinerja Kemenpar di Jakarta, Jumat.
Koordinasi dilakukan terhadap sejumlah destinasi yang terdampak kebakaran hutan, gempa bumi, kebakaran permukiman hingga erupsi gunung berapi.
Bromo hingga Labuan Bajo Ditangani Pascabencana
Di kawasan Bromo-Tengger-Semeru, Kemenpar berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan sebagai pengelola kawasan setelah kebakaran hutan menyebabkan aktivitas wisata ditutup.
Pemerintah juga memastikan wisatawan mendapatkan informasi mengenai kondisi destinasi serta mekanisme pengembalian dana dan penjadwalan ulang selama penutupan.
Di Labuan Bajo dan wilayah Flores, koordinasi dilakukan bersama pemerintah daerah, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo dan Flores, asosiasi serta pelaku industri setelah gempa bumi magnitudo 7,7 berdampak terhadap sektor pariwisata.
Sejumlah destinasi sempat ditutup, sedangkan daya tarik wisata, akomodasi, aksesibilitas dan desa wisata mengalami kerusakan serta beberapa kegiatan harus ditunda maupun dibatalkan.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat selanjutnya melaporkan aktivitas pariwisata di Labuan Bajo telah kembali berjalan dan dapat menerima kunjungan wisatawan secara normal.
Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar juga telah dibuka kembali setelah sempat ditutup sementara demi keselamatan wisatawan.
Kebakaran Desa Adat Sade Timbulkan Kerugian Rp33,84 Miliar
Kemenpar juga melakukan penanganan setelah kebakaran melanda Desa Adat Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Berdasarkan data per 27 Agustus 2026, sebanyak 75 hunian rusak total dan 20 hunian lainnya terdampak di luar Dusun Sade.
Sebanyak 11 tempat pertemuan dan sejumlah fasilitas pendukung juga terdampak dengan total kerugian diperkirakan mencapai Rp33,84 miliar.
Dalam penanganan jangka pendek, Kemenpar memastikan kebutuhan dasar masyarakat melalui bantuan makanan dan logistik, dapur umum, penyembuhan trauma, bimbingan teknis serta pemberdayaan kelompok sadar wisata.
Untuk penanganan jangka panjang, pemerintah mendorong penyusunan Master Plan Rekonstruksi Desa Adat Sade, pengumpulan dukungan rekonstruksi melalui satu pintu serta pembangunan rumah layak tinggal.
"Yang sangat penting, proses pembangunan kembali Sade harus dilakukan bersama masyarakat, serta para pemangku kepentingan untuk tetap mempertahankan karakter serta identitas budaya Suku Sasak," ujar Widiyanti.
Erupsi Anak Krakatau Berdampak pada 450 Ribu Penumpang
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berdampak terhadap Lampung, Banten, Jakarta dan Jawa Barat juga memengaruhi sektor perjalanan dengan pembatalan 4.132 penerbangan dan berdampak terhadap 450 ribu penumpang.
Widiyanti mengimbau agen perjalanan daring atau OTA dan biro perjalanan memberlakukan keadaan force majeure agar seluruh biaya tiket dapat dikembalikan 100 persen dan penjadwalan ulang dilakukan tanpa biaya tambahan.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menegaskan keselamatan wisatawan, kejelasan informasi dan percepatan pemulihan destinasi menjadi fokus pemerintah dalam menangani dampak bencana terhadap sektor pariwisata.
"Karena itu, keselamatan wisatawan, kejelasan informasi, dan percepatan pemulihan destinasi menjadi prioritas kami," kata Ni Luh.
Koordinasi lintas kementerian dan pengelola destinasi juga terus diperkuat, termasuk untuk mitigasi kebakaran serta pengelolaan risiko pada musim kering.
- Penulis :
- Aditya Yohan




