
Pantau - Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie menegaskan bahwa dukungan emosional dari keluarga dan orang terdekat memiliki peran penting dalam proses pemulihan kesehatan mental, terutama bagi seseorang yang mengalami tekanan psikologis berkepanjangan.
Efnie mengatakan keluarga tidak harus selalu memberikan nasihat atau solusi ketika menghadapi anggota keluarga yang sedang mengalami masalah kesehatan mental.
"Penting dipahami bahwa dukungan keluarga bukan berarti harus selalu memberikan solusi. Terkadang, kehadiran yang menenangkan justru jauh lebih bermakna daripada nasihat yang datang terlalu cepat," katanya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (10/10/2026).
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha itu menjelaskan bahwa kehadiran keluarga yang suportif dapat membantu seseorang merasa aman, diterima, dan tidak dihakimi saat menghadapi tekanan emosional.
Dukungan Keluarga Membantu Pemulihan Kesehatan Mental
Efnie menjelaskan bahwa tekanan psikologis yang berlangsung dalam waktu lama dapat membuat sistem respons stres di otak dan tubuh menjadi lebih aktif.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengelola emosi, berpikir jernih, mengambil keputusan, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari.
Menurutnya, dukungan keluarga dapat membantu menghadirkan rasa aman secara psikologis ketika seseorang berada dalam kondisi tersebut.
Perasaan diterima, dipahami, dan tidak mendapat penghakiman juga dapat membantu individu mengelola tekanan emosional dengan lebih baik.
"Pada dasarnya manusia bukan hanya makhluk biologis, tetapi juga makhluk psikologis dan sosial yang membutuhkan hubungan emosional yang aman," katanya.
Efnie menekankan bahwa keluarga sebaiknya menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap anggotanya merasa nyaman menjadi diri sendiri, termasuk ketika kondisi kesehatan mentalnya sedang terganggu.
"Keluarga tidak harus menjadi terapis bagi anggota keluarganya. Namun, keluarga dapat menjadi tempat pertama di mana seseorang merasa aman untuk mengatakan 'saya sedang tidak baik-baik saja'," ia menambahkan.
Psikolog Ingatkan agar Tidak Memaksa Orang yang Menutup Diri
Efnie mengingatkan keluarga agar tidak langsung memaksa anggota keluarga yang terlihat lebih pendiam atau menarik diri untuk menceritakan masalahnya.
Menurutnya, perilaku menutup diri tidak selalu berarti seseorang tidak ingin mendapatkan dukungan.
Seseorang mungkin belum merasa cukup aman untuk mengungkapkan pengalaman atau tekanan emosional yang sedang dihadapi.
Efnie menjelaskan bahwa ada sejumlah alasan seseorang memilih menyimpan perasaannya, seperti takut dihakimi, tidak ingin menjadi beban, merasa malu, atau belum memahami emosinya sendiri.
Psikolog yang tergabung dalam Asosiasi Neuropsikologi Indonesia dan Himpunan Psikologi Indonesia itu mengatakan keterbukaan emosional membutuhkan rasa aman serta kepercayaan.
Karena itu, keluarga disarankan tidak menjadikan keterbukaan sebagai tuntutan yang harus segera dipenuhi.
Keluarga Bisa Memberikan Dukungan Lewat Perhatian Sederhana
Efnie menyampaikan bahwa dukungan emosional tidak selalu harus diberikan melalui percakapan panjang atau nasihat.
Anggota keluarga dapat menunjukkan kepedulian dengan menemani seseorang melakukan aktivitas ringan, mengajaknya berbicara tanpa menginterogasi, atau menawarkan bantuan praktis.
Perhatian yang diberikan secara konsisten juga dapat membantu membangun kepercayaan tanpa membuat seseorang merasa tertekan.
"Keluarga dapat mengatakan 'aku melihat belakangan ini kamu tampak lebih banyak diam. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi, tetapi kalau suatu saat kamu ingin bercerita, aku siap mendengarkan'," kata Efnie.
Menurutnya, kalimat tersebut dapat memberikan tiga pesan psikologis penting kepada seseorang yang sedang menghadapi masalah.
Pesan tersebut adalah "Saya memperhatikan kamu, saya peduli padamu, dan saya ada untukmu."
Efnie menjelaskan bahwa bentuk komunikasi seperti itu menunjukkan perhatian tanpa memaksa seseorang untuk segera mengungkapkan perasaannya.
Rasa Aman dan Kepercayaan Jadi Kunci Keterbukaan Emosional
Efnie menegaskan bahwa tidak semua individu mampu menyampaikan pengalaman emosional secara langsung melalui percakapan.
Bagi sebagian orang, kebersamaan, perhatian kecil, dan hubungan yang terjaga secara konsisten dapat memberikan kenyamanan.
Karena itu, keluarga perlu memahami bahwa setiap orang memiliki cara dan waktu berbeda dalam mengungkapkan kondisi emosionalnya.
"Prinsipnya, jangan memaksa seseorang membuka pintu emosinya. Bangunlah rasa aman sehingga ia merasa cukup percaya untuk membukanya sendiri," kata Efnie.
Meski demikian, Efnie mengingatkan bahwa keluarga tetap perlu mengambil tindakan perlindungan apabila menemukan risiko terhadap keselamatan anggota keluarga yang sedang mengalami masalah.
Langkah perlindungan tersebut perlu dilakukan meskipun individu yang bersangkutan belum siap menceritakan kondisi atau masalah yang sedang dihadapinya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




