
Pantau - Presiden Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) Toshiyuki Onuma mengapresiasi capaian keselamatan dan keamanan penerbangan Indonesia yang melampaui rata-rata global, sekaligus menyoroti kontribusi Indonesia dalam membantu pengembangan sektor penerbangan di lebih dari 60 negara.
Apresiasi tersebut disampaikan Onuma saat menghadiri resepsi diplomatik peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Markas Besar ICAO, Montreal, Kanada, Kamis (8/10/2026).
"Indonesia secara konsisten menunjukkan standar keselamatan dan keamanan di atas rata-rata global, yang mencerminkan komitmennya terhadap standar tertinggi," kata Onuma sebagaimana disampaikan KBRI Ottawa dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (10/10/2026).
Acara tersebut dihadiri sekitar 200 undangan dari negara-negara anggota ICAO.
Keselamatan Penerbangan Indonesia Lampaui Rata-Rata Global
Berdasarkan hasil audit ICAO melalui Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP), Indonesia mencatat tingkat penerapan efektif atau effective implementation sebesar 78,85 persen.
Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 70,6 persen dan rata-rata kawasan Asia Pasifik sebesar 69,6 persen.
Sementara itu, pada audit keamanan penerbangan ICAO, Indonesia memperoleh nilai 88,53 persen.
Angka tersebut melampaui target global sebesar 75 persen.
Hasil audit itu menjadi salah satu dasar apresiasi ICAO terhadap penerapan standar keselamatan dan keamanan penerbangan sipil Indonesia.
Indonesia Calonkan Diri sebagai Anggota Dewan ICAO 2026–2028
Indonesia kembali mencalonkan diri sebagai anggota Dewan ICAO untuk periode 2026–2028.
Hasil pemilihan anggota Dewan ICAO dijadwalkan diumumkan dalam Sidang ke-43 Majelis Luar Biasa ICAO pada 19–20 November 2026.
Peluang Indonesia untuk kembali menduduki kursi Dewan ICAO terbuka seiring penambahan jumlah anggota dewan dari 36 menjadi 40 negara.
Indonesia sebelumnya pernah menjadi anggota Dewan ICAO selama 12 periode dalam rentang 1962 hingga 2001.
Sejak bergabung dengan ICAO pada 1950, Indonesia juga aktif membangun kerja sama internasional di bidang penerbangan sipil.
Pada 2012, Indonesia membuka Kantor Kepentingan Indonesia pada ICAO (KKIP ICAO) di Montreal untuk memperkuat koordinasi dan partisipasi dalam berbagai pertemuan organisasi tersebut.
ICAO Apresiasi Bantuan Indonesia kepada Lebih dari 60 Negara
Selain mencatat capaian keselamatan penerbangan, Indonesia mendapat apresiasi atas kontribusinya dalam mendukung pengembangan kapasitas penerbangan negara-negara berkembang.
Onuma menyebut Indonesia telah berbagi keahlian dengan lebih dari 60 negara melalui program Indonesia Developing Countries Training Program (DCTP).
Program tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi Indonesia dalam memperkuat kemampuan sumber daya manusia dan pengelolaan penerbangan sipil di berbagai negara.
Dalam satu tahun terakhir, Indonesia juga aktif memberikan bantuan melalui pelatihan, pertukaran keahlian, dan dukungan finansial untuk peningkatan kapasitas sektor penerbangan.
Duta Besar RI untuk Kanada sekaligus Wakil Tetap RI untuk ICAO, Muhsin Syihab, mengatakan perkembangan Indonesia memiliki hubungan erat dengan kemajuan sektor penerbangan.
Menurutnya, penerbangan sipil berperan menghubungkan Indonesia dengan berbagai peluang kerja sama internasional.
Kemenhub Sebut Penerbangan Jadi Penghubung Wilayah Indonesia
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa transportasi udara memiliki peran penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.
"Sebagai negara kepulauan, Indonesia tidak melihat penerbangan sipil hanya sebagai industri, tetapi juga sebagai cara hidup yang menghubungkan komunitas," kata Lukman.
Menurutnya, konektivitas udara tidak hanya mendukung mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu penggerak kegiatan ekonomi antardaerah.
Data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa hingga semester pertama 2026, penerbangan domestik telah melayani 24,9 juta penumpang.
Pada periode yang sama, jumlah penumpang penerbangan internasional mencapai 18,5 juta orang.
Layanan penerbangan tersebut didukung 257 bandara dengan 297 rute domestik dan 160 rute internasional.
Sebanyak 14 maskapai nasional dan 59 maskapai asing tercatat mengoperasikan layanan penerbangan tersebut.
Dengan capaian keselamatan dan kontribusi internasional tersebut, Indonesia berupaya memperkuat perannya dalam pengambilan kebijakan penerbangan sipil dunia melalui pencalonan sebagai anggota Dewan ICAO periode 2026–2028.
- Penulis :
- Aditya Yohan




