
Pantau - Kebiasaan tersenyum tidak hanya dapat meningkatkan suasana hati, tetapi juga berpotensi mengurangi respons stres tubuh dan memengaruhi kondisi emosional seseorang, menurut sejumlah pakar psikologi dan kesehatan mental.
Dilansir dari New York Post, Minggu (25/10/2026), perubahan ekspresi wajah dengan mengangkat sudut bibir menjadi senyuman dapat memberikan pengaruh terhadap emosi.
Neuropsikolog klinis dan forensik di Los Angeles sekaligus pengajar Pepperdine University, Dr. Judy Ho, menyebut tersenyum sebagai salah satu strategi tambahan untuk membantu menghadapi situasi sulit.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa manfaat tersebut tidak berarti seseorang harus terus-menerus tersenyum, terutama ketika tindakan itu dilakukan karena tekanan dari lingkungan.
Tersenyum Dapat Memengaruhi Hormon Stres dan Zat Kimia Otak
Judy Ho menjelaskan bahwa tersenyum dapat memengaruhi kadar kortisol, yakni hormon yang berperan dalam respons tubuh terhadap stres.
Selain kortisol, tersenyum juga dikaitkan dengan zat kimia otak yang berhubungan dengan perasaan positif, seperti endorfin, dopamin, dan serotonin.
Menurut Ho, kebiasaan tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan pendamping bagi pasien yang mengalami depresi atau kecemasan.
“Saya tidak menyarankan bahwa itu satu-satunya cara mereka dapat memperbaiki keadaan. Ini seperti salah satu hal lain yang bisa Anda tambahkan ke dalam perangkat strategi untuk menghadapi situasi sulit,” kata Ho.
Ia menekankan bahwa tersenyum bukan satu-satunya cara untuk memperbaiki kondisi emosional seseorang.
Senyuman Dikaitkan dengan Pemulihan Detak Jantung Setelah Stres
Selain memengaruhi suasana hati, tersenyum juga disebut dapat membantu tubuh menghadapi tekanan secara fisiologis.
Ho menjelaskan bahwa sejumlah temuan menunjukkan adanya perbedaan respons tubuh antara orang yang tersenyum dan mereka yang mempertahankan ekspresi wajah netral ketika menghadapi tugas yang memicu stres.
“Orang-orang yang tersenyum saat melakukan tugas yang memicu stres umumnya menunjukkan detak jantung yang lebih rendah selama masa pemulihan dibandingkan mereka yang mempertahankan ekspresi wajah netral. Tersenyum juga mengurangi beberapa aspek respons stres fisiologis tubuh,” kata Ho.
Menurutnya, kebiasaan tersenyum yang dilakukan secara berulang berpotensi memberikan dampak positif terhadap kondisi emosional.
“Dalam beberapa hal itu seperti efek mediasi," tambah dia.
Meski demikian, pengaruh senyuman terhadap respons stres tidak menjadikannya pengganti penanganan kesehatan mental yang diperlukan seseorang.
Senyum yang Dipaksakan Justru Bisa Menimbulkan Ketidaknyamanan
Di sisi lain, para ahli mengingatkan bahwa memaksakan senyuman dapat menimbulkan dampak berbeda.
Tuntutan sosial untuk selalu terlihat ramah dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman ketika harus menyembunyikan emosi yang sebenarnya.
Sebagian orang bahkan menghadapi tekanan karena khawatir dianggap tidak ramah atau bersikap dingin apabila tidak cukup sering tersenyum.
Asisten profesor yang memimpin Social Science Collaboratory di Universitas Florida, Gainesville, Nicholas Coles, menjelaskan bahwa seseorang cenderung tidak menyukai keadaan ketika merasa kehilangan kendali atas emosinya sendiri.
“Dalam situasi seperti itu, yang kami temukan justru orang-orang seolah tersenyum sambil menuju kesengsaraan. Senyuman ketika itu terasa autentik dan dilakukan atas kemauan sendiri, saya pikir itu akan memiliki efek nyata,” kata Coles.
Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan senyuman yang muncul secara sukarela dengan senyuman akibat tuntutan sosial.
Tersenyum Bisa Menjadi Strategi Saat Menghadapi Percakapan Sulit
Ho juga menyoroti kemungkinan penggunaan senyuman ketika seseorang menghadapi percakapan yang menimbulkan ketegangan.
Situasi tersebut dapat terjadi saat berkumpul bersama keluarga, terutama ketika pembicaraan menyentuh topik sensitif seperti politik atau agama.
Menurutnya, tersenyum dapat menjadi salah satu cara untuk membantu seseorang mengubah respons emosional terhadap lawan bicara.
“Jika kita bisa tersenyum dan berkata kepada diri sendiri, ‘Lihat, ini adalah seseorang yang selama ini peduli dan menyayangi Anda,’ mungkin hal itu dapat mengubah cara kita merespons mereka, bahkan ketika sedang terlibat dalam percakapan yang sulit,” kata Ho.
Meski memiliki potensi manfaat, para pakar menekankan bahwa senyuman yang dilakukan atas kemauan sendiri lebih baik daripada ekspresi yang muncul karena tekanan.
Dengan demikian, tersenyum dapat menjadi salah satu strategi sederhana dalam menghadapi stres, tetapi bukan satu-satunya langkah untuk menjaga kesehatan mental.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




