HOME  ⁄  Lifestyle

Psikolog Ungkap Cara Aman Menggunakan AI untuk Kesehatan Mental, Ingatkan Risiko Ketergantungan dan Privasi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Psikolog Ungkap Cara Aman Menggunakan AI untuk Kesehatan Mental, Ingatkan Risiko Ketergantungan dan Privasi
Foto: (Sumber :Arsip Foto - Psikolog mencatat keluhan pasien saat memberikan pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/5/2026). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/agr).)

Pantau - Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendapatkan dukungan kesehatan mental perlu dilakukan secara bijak karena teknologi tersebut memiliki keterbatasan dalam memahami emosi manusia, menjaga privasi, dan memberikan saran yang akurat.

Sejumlah psikolog menyarankan masyarakat memanfaatkan AI untuk mempelajari strategi pengelolaan stres dan kecemasan, bukan sebagai pengganti konsultasi dengan tenaga profesional kesehatan mental.

Psikolog klinis dari Therapists of New York, Geoffrey Gold, mengatakan sebagian pasiennya menggunakan AI untuk bertukar pikiran di sela sesi terapi.

"Ini menjadi saluran lain bagi mereka untuk sekadar berpikir, 'Coba lihat apa yang akan dikatakan ChatGPT mengenai situasi, perasaan, atau apa pun yang sedang saya alami ini'," katanya sebagaimana dikutip dari Real Simple, Kamis (5/11/2026).

Sementara itu, psikolog klinis asal Chicago, Adia Gooden, menilai kemudahan akses menjadi salah satu alasan masyarakat menggunakan teknologi tersebut untuk mencari informasi atau mencurahkan perasaan.

AI Bisa Membantu Mengelola Kecemasan dan Melatih Pola Pikir

Gooden menjelaskan AI dapat dimanfaatkan untuk membantu pengguna mempelajari keterampilan tertentu yang mendukung kesehatan mental.

"AI bisa sangat berguna untuk menerapkan strategi spesifik yang mendukung kesehatan mental Anda," kata Gooden.

Salah satu contohnya adalah meminta AI memandu latihan pernapasan selama lima menit ketika seseorang merasa cemas.

Pengguna juga dapat meminta rekomendasi topik untuk ditulis dalam jurnal sebagai bagian dari latihan rasa syukur.

Selain itu, AI dapat digunakan untuk membantu mengenali pola berpikir katastrofik, yakni kecenderungan membayangkan kemungkinan terburuk dari suatu keadaan.

Gooden menyebut teknologi tersebut juga dapat membantu menyusun langkah untuk mengubah kebiasaan berbicara negatif terhadap diri sendiri.

Namun, penggunaan AI sebaiknya difokuskan pada pembelajaran strategi praktis, bukan dijadikan sumber utama dukungan emosional.

Psikolog Ingatkan AI Tidak Bisa Menggantikan Terapis

Gold menegaskan AI memiliki keterbatasan karena tidak mampu membangun hubungan emosional sebagaimana interaksi langsung antarmanusia.

"Tidak ada sosok manusia di sisi lain yang memiliki kehidupan emosional untuk diajak berinteraksi," kata Gold.

Menurut dia, AI dapat menghasilkan respons yang terdengar empatik, tetapi tidak memiliki kemampuan memahami pengalaman emosional seseorang seperti terapis manusia.

Gooden menjelaskan terapis dapat mengenali kondisi pasien melalui berbagai petunjuk nonverbal, termasuk nada suara dan ekspresi wajah.

"Kalau mereka berkata, 'Oh, saya baik-baik saja', saya bisa mendengarnya dari nada suara mereka. Saya bisa melihatnya dari ekspresi wajah mereka," kata Gooden.

Sebaliknya, alat AI yang mengandalkan percakapan tertulis mungkin tidak mampu membedakan seseorang yang benar-benar merasa baik dengan orang yang sedang menyembunyikan masalah emosional.

Terapis juga memiliki keterampilan untuk menantang pola pikir, keyakinan, atau perilaku yang tidak sehat dengan pendekatan yang tepat.

Kemampuan tersebut membantu pasien memahami penyebab masalah dan menemukan cara yang lebih konstruktif untuk menghadapinya.

Batasi Penggunaan AI dan Periksa Kebenaran Informasi

Gold menyarankan pengguna menetapkan batas waktu sekitar 45 hingga 50 menit dalam setiap sesi percakapan dengan AI.

Pembatasan tersebut bertujuan menjaga pembahasan tetap terarah dan tidak berkembang terlalu jauh dari kebutuhan awal.

Pengguna juga dianjurkan menghindari ketergantungan pada AI untuk mendapatkan kenyamanan emosional atau menyelesaikan persoalan psikologis yang kompleks.

Selain itu, setiap informasi dan saran yang diberikan AI perlu diperiksa kembali melalui sumber terpercaya.

Hal tersebut penting karena AI dapat menghasilkan jawaban yang keliru, tidak akurat, atau kurang sesuai dengan kondisi individu.

Pengguna dapat meminta AI mencantumkan sumber rujukan sebelum mempertimbangkan informasi yang disampaikan.

Respons AI juga perlu disikapi secara kritis karena teknologi tersebut bukan otoritas yang mengetahui seluruh kondisi kesehatan mental seseorang.

Privasi Data Menjadi Perhatian dalam Konsultasi dengan AI

Selain keterbatasan dalam memahami emosi, penggunaan AI untuk membahas masalah kesehatan mental juga menimbulkan perhatian terkait keamanan informasi pribadi.

Tenaga profesional kesehatan mental berlisensi memiliki kewajiban etis dan hukum untuk menjaga kerahasiaan informasi pasien.

Sementara itu, perlindungan informasi dalam layanan AI bergantung pada kebijakan privasi, pengaturan, dan ketentuan masing-masing penyedia layanan.

Karena itu, pengguna perlu berhati-hati sebelum membagikan informasi sensitif mengenai kondisi psikologis maupun kehidupan pribadinya.

Gooden menekankan bahwa penggunaan AI tidak dapat menggantikan proses terapi yang melibatkan hubungan profesional antara pasien dan terapis.

Menurut dia, perubahan yang mendukung kesejahteraan mental membutuhkan waktu, usaha, dan proses yang tidak dapat digantikan hanya dengan jawaban dari teknologi AI.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026