
Pantau - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, memimpin langsung rangkaian kegiatan Napak Tilas Jejak Restu Pendirian NU yang menempuh rute dari Bangkalan menuju Jombang, Jawa Timur.
Sejak Minggu dini hari, Gus Yahya telah berada di kompleks Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil, Bangkalan, sebagai titik awal kegiatan.
Ia memulai rangkaian acara dengan Shalat Subuh berjamaah di Masjid Syaichona Cholil.
Setelah itu, dilanjutkan dengan pembacaan tahlil di maqbarah (makam) Syaichona Moh Cholil, sebagai bentuk penghormatan spiritual kepada ulama yang memberikan restu awal berdirinya NU.
"Napak tilas ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghadirkan kembali kesadaran bahwa NU berdiri di atas restu para guru dan ulama dengan landasan spiritual yang sangat kuat," ungkap Gus Yahya.
Longmarch Sejarah Dimulai, Simbol Kepemimpinan NU Akan Diserahkan di Tebuireng
Usai kegiatan tahlil, Gus Yahya secara resmi melepas keberangkatan KHR Ach Azaim Ibrahimy bersama ribuan peserta longmarch dalam rangka menapaki jejak sejarah pendirian Nahdlatul Ulama.
Pelepasan tersebut menandai dimulainya perjalanan napak tilas bersejarah, merefleksikan saat Kiai As’ad Syamsul Arifin menyampaikan isyarat restu dari Syaichona Moh Cholil kepada KH Hasyim Asy’ari.
"Yang sedang kita jaga bukan hanya organisasi secara struktural, tetapi amanah rohani yang diwariskan para pendiri NU," ia menegaskan.
Puncak kegiatan napak tilas akan digelar di Pesantren Tebuireng, Jombang.
Di sana akan dilaksanakan prosesi penyerahan simbol-simbol sejarah berupa tongkat dan tasbih.
KHR Ach Azaim Ibrahimy, sebagai dzurriyah (keturunan) Kiai As’ad, akan menyerahkan pusaka tersebut kepada perwakilan dzurriyah KH Hasyim Asy’ari.
Selanjutnya, simbol itu akan diteruskan kepada Rais Aam PBNU dan kemudian diserahkan kepada Ketua Umum PBNU sebagai penanda kesinambungan kepemimpinan spiritual NU.
Menurut panitia, estafet simbolik ini menjadi pengingat bahwa NU lahir bukan hanya dari kesepakatan struktural, melainkan dari restu guru-guru spiritual.
PBNU berharap, melalui kegiatan ini, kader NU semakin memahami bahwa pendirian organisasi ini dilandasi oleh ketulusan, isyarat spiritual, dan restu dari para ulama demi khidmat kepada umat dan bangsa.
- Penulis :
- Gerry Eka







