
Pantau - BMKG Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengingatkan potensi meningkatnya kebakaran hutan dan lahan akibat curah hujan yang berada di bawah normal hingga akhir Januari 2026.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit Mulyono Leo Nardo di Sampit.
Mulyono menjelaskan rendahnya curah hujan dipengaruhi keberadaan bibit siklon di wilayah utara dan selatan Indonesia yang menarik uap air ke pusat siklon.
Kondisi tersebut menyebabkan pembentukan awan hujan di wilayah Kotawaringin Timur tidak berlangsung optimal.
Secara klimatologis, bulan Januari biasanya memiliki curah hujan di atas 100 milimeter.
Namun pada Januari 2026, curah hujan di Kotim tercatat jauh lebih rendah dan di beberapa titik bahkan tidak terjadi hujan sama sekali.
Berdasarkan prakiraan BMKG Kotim, curah hujan Dasarian III Januari 2026 berada pada kategori rendah hingga menengah.
Curah hujan tersebut diperkirakan berkisar antara 20–50 milimeter dan 50–75 milimeter dengan sifat hujan berada di bawah normal.
Data BMKG menunjukkan hingga akhir Januari 2026 curah hujan hanya mencapai 20 hingga 75 milimeter.
Kondisi tersebut meningkatkan kerawanan karhutla karena sebagian besar wilayah Kotim merupakan lahan gambut yang mudah mengering.
Sepanjang periode 1 hingga 20 Januari 2026, BMKG mencatat terdapat 61 titik panas atau hotspot di wilayah Kotim.
Mulyono menjelaskan, "Lahan gambut bisa terlihat basah di permukaan setelah hujan ringan, tetapi bagian dalamnya tetap kering dan mudah terbakar."
BMKG memprakirakan hujan akan turun pada minggu keempat Januari 2026, yakni pada 26 hingga 31 Januari.
Namun hujan tersebut diperkirakan hanya bersifat ringan hingga sedang serta tidak merata.
Intensitas hujan yang turun dinilai belum cukup untuk menghilangkan risiko kebakaran secara menyeluruh.
BMKG mengimbau seluruh elemen masyarakat tetap waspada dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Untuk periode Februari hingga Maret 2026, kondisi cuaca diprediksi mulai membaik secara bertahap.
Curah hujan pada periode tersebut diperkirakan berada pada kategori menengah, yakni sekitar 150 hingga 300 milimeter.
Meski demikian, BMKG menegaskan selama sifat hujan masih berada di bawah normal, potensi karhutla tetap ada terutama di wilayah lahan gambut.
- Penulis :
- Aditya Yohan








