
Pantau - Ekspedisi laut di kawasan timur Indonesia mengungkap temuan mengejutkan. Perairan Kepulauan Romang dan Damer di Maluku Barat Daya menyimpan populasi dugong dalam jumlah signifikan serta struktur terumbu karang berusia ratusan tahun.
Riset dilakukan melalui ekspedisi Romang Damer 2025. Program tersebut melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama WWF Indonesia. Tim peneliti mendokumentasikan lebih dari 30 individu dugong, mamalia laut langka yang menjadi indikator kesehatan ekosistem pesisir.
Penelitian juga mencatat kemunculan paus orca serta mengidentifikasi struktur karang kuno melalui teknologi fotogrametri. Data tersebut memperkuat nilai ekologis kawasan tersebut.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara menilai temuan tersebut mempertegas peran penting wilayah Romang dan Damer dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut Indonesia.
"Temuan ini tentunya memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi dan menegaskan pentingnya Romang Damer sebagai kawasan dengan fungsi ekologis yang sangat strategis," ungkap Koswara dalam gelar wicara Bincang Bahari bertajuk ‘Permata Tersembunyi Indonesia Timur: Romang-Damer dan Masa Depan Konservasi Laut’, di Media Center KKP, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Koswara menjelaskan wilayah tersebut kerap dijuluki sebagai pulau yang terlupakan meski memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Kawasan itu berperan menjaga stabilitas lingkungan laut sekaligus mendukung kehidupan masyarakat pesisir.
Pemerintah telah menetapkan perairan Romang dan Damer sebagai kawasan konservasi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 dan Nomor 6 Tahun 2022. Penetapan tersebut menjadi bagian strategi pengelolaan sumber daya laut berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat.
Pendekatan ini selaras dengan kebijakan ekonomi biru. Program tersebut menekankan keseimbangan perlindungan lingkungan, pemanfaatan sumber daya berkelanjutan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Ekspedisi penelitian berlangsung lebih dari satu bulan dengan melibatkan dua tim berbeda. Tim darat melakukan survei sosial ekonomi masyarakat, sementara tim laut fokus mengkaji kondisi ekologi perairan.

Senior Project Manager Yayasan WWF Indonesia, Hafizh Adyas menjelaskan riset dilakukan untuk memperbarui data keanekaragaman hayati laut setelah lebih dari satu dekade tidak dilakukan penelitian komprehensif.
Kajian ekologis menyoroti tiga ekosistem utama, yakni terumbu karang, lamun, serta mangrove. Ketiga ekosistem tersebut menjadi indikator utama kesehatan lingkungan laut.
Hasil penelitian menunjukkan kondisi karang hidup berada pada kisaran tutupan 39 hingga 51 persen. Angka tersebut menandakan kualitas ekosistem masih tergolong baik. Tim juga menemukan struktur karang berusia sangat tua.
"Hasil analisis kami menemukan beberapa karang yang purba gitu. Purba itu usianya udah 100-200 tahun. Jadi karang itu kan koloni yang tumbuh dia. Jadi kalau karang sebesar itu, itu bisa kita duga usianya sudah lebih dari antara 100 sampai 200 tahun," jelas Hafizh.
Pada ekosistem lamun, peneliti mencatat kondisi vegetasi laut cukup padat dengan tingkat kerapatan sekitar 57 persen. WWF Indonesia menemukan sembilan jenis lamun, termasuk spesies dengan ketahanan tinggi terhadap perubahan suhu.
Sementara pada ekosistem mangrove, tim mengidentifikasi sedikitnya 43 spesies. Struktur hutan bakau di wilayah tersebut dinilai masih utuh dengan proses regenerasi alami berjalan optimal.
Selain ekosistem, ekspedisi mencatat lebih dari 200 spesies satwa laut berstatus dilindungi, rentan, maupun terancam punah. Kehadiran dugong dan paus orca menjadi indikator penting stabilitas ekosistem laut Romang dan Damer.
Sinergi pemerintah, akademisi, organisasi konservasi, serta masyarakat lokal diharapkan mampu menjaga keberlanjutan kawasan tersebut.
Pengelolaan konservasi dinilai tidak hanya berdampak pada perlindungan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi generasi mendatang.Ekspedisi KKP dan WWF menemukan puluhan dugong serta karang purba di perairan Romang Damer Maluku Barat Daya.
- Penulis :
- Khalied Malvino







