
Pantau - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menegaskan bahwa industri pengolahan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 yang mencapai 5,11 persen, dengan harapan produktivitas menjadi fokus utama untuk mencapai target pertumbuhan 8 persen di masa mendatang.
Pernyataan ini disampaikan oleh sejumlah pengurus Kadin menyikapi rilis pertumbuhan ekonomi nasional dan sektor strategis lainnya.
Industri Pengolahan Tumbuh Kuat, PMI Terus Ekspansi
Pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 tercatat sebesar 5,39 persen secara tahunan (year-on-year), didorong oleh sektor industri pengolahan yang tumbuh sebesar 5,40 persen.
Industri pengolahan menyumbang sekitar 19 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menjadikannya sektor terbesar dalam struktur ekonomi nasional.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional, Bayu Priawan Djokosoetono, menyatakan bahwa investasi sektor ini terus meningkat.
"Pengusaha Indonesia siap bersaing dan terus berinvestasi, terbukti dengan PMTB tumbuh 6,12 persen pada kuartal IV 2025 dan kontribusi investasi PMDN sepanjang 2025 lebih besar dibandingkan PMA", ujarnya.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur juga menunjukkan tren positif, berada di zona ekspansi sejak Agustus 2025 dan mencapai angka 52,6 pada Januari 2026.
Kadin menargetkan pertumbuhan industri pengolahan bisa mendekati 6 persen pada 2026 agar utilisasi aset tetap dan kapasitas pabrik menjadi optimal.
Sektor Pertanian dan Konstruksi Masih Hadapi Tantangan
Sektor pertanian tumbuh 5,14 persen pada kuartal IV 2025, namun dinilai masih memiliki produktivitas yang rendah.
Ketua Komite Tetap Perencanaan Pangan Kadin, Frans Tambunan, menjelaskan bahwa meskipun 28 persen tenaga kerja berada di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, kontribusinya hanya 13 persen terhadap PDB.
"Indonesia perlu terus mendorong modernisasi pertanian melalui inovasi dan investasi teknologi tepat guna, termasuk optimalisasi dan pembukaan lahan baru, serta penguatan sektor perikanan", kata Frans.
Di sisi lain, sektor konstruksi yang menyumbang hampir 10 persen terhadap PDB hanya tumbuh 3,81 persen, seiring dengan melambatnya belanja pemerintah yang tercatat tumbuh 4,55 persen.
Ketua Komite Tetap Perencanaan Ekonomi dan Moneter Kadin, Ikhwan Primanda, menilai bahwa program-program seperti KUR perumahan, renovasi sekolah, dan pembangunan infrastruktur perlu diakselerasi untuk mendorong sektor konstruksi dan real estat.
Konsumsi Rumah Tangga dan Tantangan Ekspor
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan dengan kontribusi 53,88 persen terhadap PDB dan pertumbuhan sebesar 5,11 persen.
Kadin juga mengapresiasi program stimulus 8+4+5 yang mencakup pelatihan dan program magang bagi lebih dari 80 ribu lulusan baru.
Namun, pertumbuhan ekspor melambat signifikan dari 9,14 persen pada kuartal sebelumnya menjadi 3,25 persen pada kuartal IV 2025, sehingga berpotensi menyebabkan penumpukan stok produk jadi.
Ikhwan menekankan bahwa peningkatan produktivitas harus menjadi prioritas, bukan sekadar penambahan modal atau tenaga kerja.
"Kontribusi produktivitas total atau total factor productivity terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat rendah dibandingkan Vietnam dan China", ujarnya.
Kadin berharap reformasi struktural dan peningkatan produktivitas akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ke level 8 persen dalam jangka menengah.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Aditya Yohan







