
Pantau - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, meminta Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia untuk menjelaskan arah kebijakan fiskal Indonesia kepada lembaga pemeringkat internasional Moody’s.
Permintaan itu disampaikan dalam acara Opening Ceremony ABAC Meeting I 2026 yang digelar di Jakarta pada Sabtu, 7 Februari 2026.
Penyesuaian Struktur Anggaran dan Peran Strategis Danantara
Airlangga menekankan pentingnya transparansi Danantara dalam menyampaikan peran dan fungsinya, terutama pasca perubahan mekanisme penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
"Sekarang semuanya masuk di Danantara, dan Danantara memerankan fungsi juga untuk investasi. Ini yang perlu penjelasan", ungkapnya.
Sejak Danantara dibentuk sebagai sovereign wealth fund (SWF), dividen yang sebelumnya masuk ke kas negara sebagai PNBP kini langsung dikelola oleh lembaga tersebut untuk investasi atas aset negara.
Perubahan ini menciptakan perbedaan dalam struktur anggaran tahun 2026, khususnya terkait aspek investasi.
"Karena (kebijakan fiskal) tahun ini tentu ada perbedaan di dalam anggaran, terutama terkait dengan investasi", jelas Airlangga.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit anggaran di bawah 3% dan rasio utang terhadap PDB di bawah 40%.
"Secara makro kami jaga", ia menambahkan.
Moody’s Turunkan Outlook, Pemerintah Fokus Jaga Kepercayaan
Moody’s sebelumnya mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2 (investment grade), namun menurunkan outlook dari stabil menjadi negatif.
Dalam laporannya, Moody’s menyoroti pentingnya:
- Menjaga prediktabilitas pengambilan kebijakan
- Meningkatkan konsistensi komunikasi publik
- Memperkuat koordinasi antar kementerian dan lembaga
Mengoptimalkan basis penerimaan negara untuk mendukung belanja prioritas dan pertumbuhan ekonomi
Airlangga menilai bahwa Danantara perlu memberikan penjelasan secara rinci kepada Moody’s guna menghindari kesan adanya ketidakpastian dalam pengelolaan fiskal.
Menurutnya, komunikasi yang terbuka menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas dan kepercayaan investor.
Berbagai pihak, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), turut menyatakan bahwa peringkat Moody’s masih menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional.
- Penulis :
- Aditya Yohan







