Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Pelabuhan Panarukan Situbondo Bangkit Kembali, Kejayaan Sejarah Dihidupkan pada Era Pemerintahan Prabowo

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pelabuhan Panarukan Situbondo Bangkit Kembali, Kejayaan Sejarah Dihidupkan pada Era Pemerintahan Prabowo
Foto: (Sumber: Kapal Tugboat saat uji sandar lepas di Pelabuhan Panarukan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. ANTARA/HO-KSOP Kelas IV Panarukan.)

Pantau - Upaya menghidupkan kembali kejayaan Pelabuhan Panarukan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, terus dilakukan mengingat pelabuhan ini memiliki nilai sejarah penting sejak masa kolonial Belanda.

Pelabuhan Panarukan pernah mencapai puncak kejayaannya sebagai pusat perdagangan internasional pada periode 1808 hingga 1811.

Pelabuhan ini dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels dan berlokasi sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Situbondo.

Pada masa tersebut, pembangunan Pelabuhan Panarukan dilakukan bersamaan dengan pembangunan Jalan Raya Pos Anyer, Jawa Barat, hingga Panarukan, Jawa Timur, sepanjang sekitar 1.000 kilometer.

Pelabuhan dan jalan raya itu berfungsi sebagai basis militer sekaligus sarana distribusi hasil sumber daya alam dan hasil bumi.

Komoditas utama yang dikirim melalui Pelabuhan Panarukan antara lain kopi, kakao, dan gula dari wilayah Jember serta Bondowoso untuk diekspor ke luar negeri.

Seiring berjalannya waktu, Pelabuhan Panarukan mengalami kemerosotan pada periode 1960 hingga 1980.

Kemerosotan tersebut disebabkan pendangkalan akibat aliran Sungai Sampean yang bermuara ke perairan laut Panarukan.

Akibat kondisi itu, aktivitas pelayaran dialihkan ke pelabuhan lain seperti Pelabuhan Meneng dan Pelabuhan Tanjung Wangi di Banyuwangi.

Pada era kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Pelabuhan Panarukan kembali dihidupkan melalui peningkatan fasilitas oleh Kementerian Perhubungan.

Melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, dilakukan rehabilitasi pelabuhan bersejarah tersebut untuk mengembalikan perannya dalam aktivitas kepelabuhanan.

Pelabuhan Panarukan juga tercatat dalam sejarah sebagai salah satu lokasi persinggahan bangsa Portugis.

Pembangunan awal Pelabuhan Panarukan dimulai pada 2008 dan dilanjutkan dengan pengembangan pada 2011 hingga 2012.

Penambahan kantor pelabuhan dilakukan pada 2019 sebagai bagian dari penguatan fasilitas pendukung.

Pada tahun anggaran 2025, dilakukan rehabilitasi segmen dermaga 2 berukuran sekitar 107 x 10 meter persegi beserta fasilitas darat.

Rehabilitasi tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas, keselamatan, dan kinerja operasional pelabuhan.

Pelabuhan Panarukan memiliki dermaga sepanjang 176,5 meter dengan lebar 10 meter serta trestle sepanjang 452 meter dengan lebar 7 meter.

Pelabuhan ini juga dilengkapi jalan lintas sepanjang 925 meter untuk mendukung kelancaran distribusi logistik.

Pada awal 2026, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut memastikan dermaga Pelabuhan Panarukan siap beroperasi setelah uji sandar tahap akhir dilaksanakan.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas IV Panarukan Situbondo, Herland Aprilyanto, menyampaikan bahwa uji sandar telah dilakukan bersama para pemangku kepentingan terkait.

Uji sandar tersebut dihadiri perwakilan PT Pertamina Patra Niaga, PT Pertamina Trans Kontinental, dan PT Pertamina Port dan Logistics.

Dalam pengujian, Kapal Tugboat Medelin Delta dan Tugboat Meiden Lucky milik PT Pertamina Port dan Logistics melakukan manuver sandar dan lepas dengan aman dan lancar.

Pelaksanaan uji sandar dinilai telah memenuhi standar operasional prosedur serta menjadi syarat utama perolehan izin operasional pelabuhan.

Sebelum direhabilitasi, Pelabuhan Panarukan melayani kapal-kapal dari Madura, Kalimantan Selatan, Pulau Buton Sulawesi, dan wilayah lain untuk bongkar muat barang dan logistik.

Penulis :
Aditya Yohan