
Pantau - Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterohepatologi dr David Reinhard Sumantri Samosir menyatakan diagnosis infeksi Helicobacter pylori yang berkoloni di lambung dapat dilakukan melalui deteksi dini menggunakan pemeriksaan non-invasif Urea Breath Test atau UBT.
“UBT menjadi pilihan utama dari berbagai pemeriksaan non-invasif untuk mendeteksi infeksi H.pylori dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi,” ujar dr David.
UBT berfungsi untuk mendeteksi ada atau tidaknya infeksi H.pylori pada pasien dengan keluhan lambung tanpa prosedur invasif seperti endoskopi dan biopsi.
Pemeriksaan ini juga berperan dalam mengevaluasi keberhasilan terapi eradikasi maupun mendeteksi kekambuhan infeksi H.pylori.
Bakteri H.pylori berkoloni di mukosa lambung dan memproduksi enzim urease yang dapat menimbulkan keluhan seperti dispepsia, gastritis, ulkus lambung, hingga komplikasi lanjutan seperti limfoma MALT dan kanker lambung.
H.pylori telah diklasifikasikan sebagai bakteri karsinogenik kelas I oleh International Agency for Research on Cancer.
Penelitian terbaru menunjukkan infeksi H.pylori dapat meningkatkan risiko terbentuknya polip di usus besar, termasuk jenis polip tertentu yang dapat menjadi awal kanker lambung.
“Deteksi dan pengobatan dini sangat penting karena bisa membantu mencegah polip usus besar pada orang dewasa,” ungkap dr David.
Pada pasien dengan kondisi khusus seperti kanker kolorektal, diperlukan tindakan operasi yang ditangani oleh subspesialis bedah digestif.
Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Digestif dr Mudatsir menjelaskan bahwa penanganan kanker saluran cerna bersifat sangat individual.
“Pada kasus tertentu, dokter akan menentukan strategi terapi berdasarkan kondisi pasien, ukuran tumor, serta luas penyebarannya, apakah hanya ada tumor primer atau sudah terjadi penyebaran ke organ lain metastasis,” jelasnya.
Jika penyebaran belum luas ke organ lain, operasi dapat dilakukan secara kuratif dengan pengangkatan jaringan tumor beserta usus yang terlibat dan cabang pangkal pembuluh darahnya untuk menurunkan risiko kekambuhan.
Deteksi dini dinilai berperan besar dalam meningkatkan keberhasilan terapi, termasuk melalui UBT untuk mendeteksi faktor risiko lesi prakanker pada kanker lambung.
Pada kanker kolon, skrining dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah samar pada feses fecal occult blood test dan penanda tumor CEA.
“Bila ditemukan kecurigaan keganasan dapat dilanjutkan dengan salah satu prosedur endoskopi yaitu kolonoskopi agar kondisi saluran cerna dapat terlihat jelas sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat,” kata dr Mudatsir.
Siloam Hospitals TB Simatupang menyediakan layanan komprehensif yang mengombinasikan pemeriksaan UBT, endoskopi, serta tumor marker saluran cerna seperti CEA dan CA 72-4.
“Layanan UBT dan endoskopi di Siloam Hospitals TB Simatupang juga menerima rujukan bagi rumah sakit non Siloam,” ujar Hospital Director Siloam Hospitals TB Simatupang Dr Dewi Wiguna.
- Penulis :
- Aditya Yohan








