
Pantau - Warga terdampak banjir bandang di Dusun Bahagia, Desa Bundar, Aceh Tamiang, Aceh, memanfaatkan momentum sahur perdana Ramadhan 1447 Hijriah untuk berjualan makanan kepada praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang bertugas di kawasan pengungsian, Kamis, 19 Februari 2026.
Peristiwa ini terjadi di lokasi pengungsian akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut, saat para praja IPDN hadir membantu penanganan bencana dan warga melihat peluang untuk mendulang rezeki di tengah keterbatasan.
Salah satu pengungsi, Siti Hasanah (59) yang akrab disapa Nur Lamek, mengajukan diri untuk berjualan nasi setelah mendengar kabar bahwa akan ada praja IPDN yang ditugaskan di kawasan pengungsian tersebut.
Pengajuan tersebut disetujui sehingga ia mulai memasak dan menjual makanan kepada para pekerja di lokasi pengungsian sejak awal Ramadhan.
Pada sahur perdana Ramadhan 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi, Nur Lamek sudah bangun sekitar pukul 01.30 WIB untuk mulai memasak hidangan sahur.
“Sahur pertama di pengungsian saya memang semangat. Cepat saya bangun, jam setengah dua. (Anak saya) tanya, mau ngapain? Saya mau masak untuk anak-anak IPDN,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, “Per porsi kami jual harganya Rp15 ribu. Untuk anak-anak IPDN harga Rp13 ribu,”.
Menu yang disiapkan meliputi ayam goreng, sop sayur, rendang, mie instan, telur dadar, dan nasi goreng yang dimasak menggunakan peralatan sederhana.
Peralatan tersebut berupa wajan yang bagian dalamnya sudah dibersihkan namun bagian luarnya masih berkerak bekas banjir, wajan hibah dari tempatnya bekerja, serta kompor gas dengan penerangan lampu darurat.
Memasuki bulan suci Ramadhan, Nur Lamek melihat potensi berjualan menu sahur dan hidangan berbuka puasa di tengah situasi pengungsian yang masih dipenuhi keterbatasan.
Ia menegaskan, “Kalau bagi saya, nggak ada perbedaan perasaan. Kita berbeda tempat aja lah, kalau ini namanya kita musibah,”.
Meskipun suasana sahur berbeda dibandingkan tahun sebelumnya karena berada di pengungsian, ia tetap menjalani aktivitasnya dengan semangat dan senyuman.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








