Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Alokasi Mandatori B40 Tahun 2026 Naik Jadi 15,646 Juta KL, Aprobi Tegaskan Komitmen Transisi Energi Rendah Karbon

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Alokasi Mandatori B40 Tahun 2026 Naik Jadi 15,646 Juta KL, Aprobi Tegaskan Komitmen Transisi Energi Rendah Karbon
Foto: (Sumber : Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga (tengah), Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Ernest Gunawan (kanan) dalam acara berbuka puasa bersama awak media di Jakarta, Rabu (25/2/2026). ANTARA/Harianto..)

Pantau - Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Ernest Gunawan menyampaikan alokasi program mandatori biodiesel 40 persen (B40) naik menjadi 15,646 juta kiloliter sepanjang 2026 guna memperkuat transisi energi rendah karbon di Indonesia.

Ernest mengatakan kenaikan alokasi pada 2026 relatif tipis sekitar 30.000 kiloliter dibandingkan alokasi 2025 sebesar 15,616 juta kiloliter.

"Di mana alokasi mandatori B40 dalam tahun ini (2026) hanya naik sekitar 30.000 kiloliter saja. Total jadi 15,646 juta kiloliter, hampir 15,65 juta kiloliter," ungkapnya dalam acara buka puasa bersama awak media di Jakarta.

Ia menegaskan meski kenaikannya tipis, hal tersebut menunjukkan konsistensi komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan program biodiesel nasional.

Acara tersebut turut dihadiri Asosiasi Perusahaan Oleochemical Indonesia (Apolin) dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI).

Alokasi 15,646 juta kiloliter pada 2026 terdiri atas 7,4 juta kiloliter untuk sektor public service obligation (PSO) dan 8,1 juta kiloliter untuk sektor non-PSO sebagai bagian dari distribusi biodiesel nasional.

Realisasi program mandatori biodiesel B40 sepanjang 2025 mencapai 95,67 persen dari total alokasi nasional.

Capaian tersebut diperoleh setelah proses realisasi dan rekonsiliasi data bersama Direktorat Jenderal Energi Baru dan Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM) hingga akhir Desember 2025.

"Ini kita bisa buktikan, di mana data yang kami dapat setelah realisasi dan juga rekonsiliasi dengan pihak EBTKE, dari total alokasi 15,616 juta kiloliter di tahun 2025 sampai bulan Desember itu terserap distribusi domestik sekitar 14,94 juta kiloliter, artinya hampir 95,67 persen," katanya.

Dari total alokasi 15,616 juta kiloliter pada 2025, distribusi domestik yang terserap mencapai 14,94 juta kiloliter dengan rincian sekitar 6,9 juta kiloliter untuk sektor PSO dan sekitar 8 juta kiloliter untuk non-PSO.

Sepanjang 2025 tidak terdapat ekspor biodiesel sehingga seluruh produksi difokuskan untuk kebutuhan energi domestik nasional.

Distribusi biodiesel dilakukan melalui 80 titik serah yang terdiri atas 30 titik kepada Pertamina dan 50 titik kepada badan usaha non-Pertamina.

Capaian 95,67 persen tersebut melampaui parameter keberhasilan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM yang menetapkan batas minimal 95 persen sebagai indikator efektivitas program.

Implementasi B40 sepanjang 2025 memberikan dampak ekonomi berupa penghematan devisa sekitar Rp133,3 triliun dan peningkatan nilai tambah crude palm oil (CPO) sekitar Rp20,9 triliun.

Program tersebut juga menyerap tenaga kerja hingga 1,8 juta orang serta menurunkan emisi gas rumah kaca sekitar 39,66 juta ton CO2 ekuivalen.

"Mungkin kita semua sudah mengetahui dari statemen dari Kementerian ESDM bahwasanya di tahun ini (2026), tetap stay di B40," ungkap Ernest.

Penulis :
Ahmad Yusuf