Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Budayawan Ingatkan Penyampaian Aspirasi Jangan Sampai Timbulkan Perpecahan di Yogyakarta

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Budayawan Ingatkan Penyampaian Aspirasi Jangan Sampai Timbulkan Perpecahan di Yogyakarta
Foto: (Sumber: Ratusan warga Yogyakarta yang menamakan diri "Kawula Ngayogyakarta" menggelar aksi budaya di Mapolda DIY, Kamis (26/2/2026). ANTARA/Dokumentasi Pribadi.)

Pantau - Budayawan Widihasto Wasana Putra mengingatkan agar semangat menyampaikan pendapat di ruang publik tidak menimbulkan perpecahan maupun kerusakan fasilitas umum menyusul kericuhan unjuk rasa mahasiswa di Markas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta pada 24 Februari 2026.

Demokrasi Harus Tetap dalam Koridor Hukum

Widihasto mengatakan, "Hormati lah hak-hak masyarakat lainnya dan jagalah fasilitas umum sebagai milik bersama," ujarnya.

Ia menilai dalam alam demokrasi Indonesia pascareformasi, penyampaian aspirasi dan sikap kritis terhadap jalannya pemerintahan merupakan keniscayaan.

Ia menyampaikan, "Demokrasi memberikan ruang bagi rakyat untuk menyampaikan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab," katanya.

Namun, ia menekankan kebebasan tersebut tetap memiliki batas dan harus berada dalam koridor hukum, menjunjung tata tertib, serta menghindari kekerasan, anarkisme, dan perusakan fasilitas umum.

Widihasto menegaskan, "Terlebih apabila hal tersebut terjadi di Yogyakarta, daerah yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa yang menjunjung tinggi nilai kesantunan, tepa salira, dan kerukunan," tegasnya.

Aksi Budaya Tolak Anarkisme

Sebelumnya, ratusan warga yang menamakan diri Kawula Ngayogyakarta menggelar aksi budaya pada 26 Februari 2026.

Peserta aksi terdiri atas pelajar, mahasiswa, komunitas seni tradisi, budayawan, serta penggiat seni keprajuritan rakyat.

Mereka menyampaikan seruan nasional untuk menolak praktik unjuk rasa anarkis.

Aksi dimulai dari Terminal Condongcatur, Sleman, menyusuri jalur lambat Ring Road Utara menuju Mapolda DIY.

Kegiatan dikemas menyerupai karnaval budaya dengan memainkan alat musik tradisional seperti terompet, seruling, bende, tambur, dan kendang.

Peserta mengenakan kostum menyerupai busana prajurit kraton dan membawa spanduk bertuliskan aksara Jawa Tolak Kekerasan, Utamakna Katentreman.

Wakapolda DIY Eddy Junaedi mengatakan, "Kehadiran panjenengan semua membawa kesejukan karena semuanya mengenakan kostum adat budaya yang menjadi ciri khas di DIY. Semoga hal positif semacam ini terus kita rajut bersama agar kondusivitas keamanan tercipta mantap," ujarnya.

Ia menegaskan kepolisian tidak mempermasalahkan penyampaian aspirasi maupun kritik, namun berharap tidak dilakukan dengan cara anarkis sebagaimana harapan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Aksi budaya tersebut ditutup dengan foto bersama dan berlangsung lancar hingga pukul 17.00 WIB sebelum massa membubarkan diri secara tertib.

Penulis :
Gerry Eka