HOME  ⁄  Nasional

Perempuan Jadi Penopang Ekonomi Keluarga, DPR Soroti Peran Strategis di Momentum Idulfitri

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Perempuan Jadi Penopang Ekonomi Keluarga, DPR Soroti Peran Strategis di Momentum Idulfitri
Foto: Anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati (sumber: DPR RI)

Pantau - Momentum Idulfitri dimaknai sebagai waktu kembali ke fitrah sekaligus refleksi untuk memperbaiki diri, mempererat kebersamaan, dan memperkuat kepedulian sosial, termasuk menyoroti peran penting perempuan dalam menjaga ketahanan keluarga di tengah tekanan ekonomi.

Peran Perempuan di Tengah Tekanan Ekonomi

Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati menilai perempuan, khususnya ibu, memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan rumah tangga di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Ia mengungkapkan, "Dalam kondisi sekarang, perempuan itu benar-benar jadi penopang utama di keluarga. Para ibu harus makin pintar mengatur keuangan kekuarga, memastikan kebutuhan terpenuhi, walaupun kondisi ekonomi sedang tidak mudah."

Menurutnya, tekanan ekonomi membuat banyak perempuan harus mencari cara tambahan untuk menopang keluarga, bahkan ikut berkontribusi dalam menambah penghasilan.

"Kita tidak bisa menutup mata, harga-harga kebutuhan sehari-hari masih terasa tinggi bagi banyak keluarga. Situasi ini membuat perempuan sering kali harus mencari cara tambahan, bahkan ikut menambah penghasilan keluarga," ungkapnya.

Meski demikian, Anis menegaskan bahwa mencari nafkah bukan merupakan tugas utama perempuan, melainkan tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga.

"Perlu dipahami, mencari nafkah bukan tugas utama perempuan. Maka ketika perempuan ikut berkontribusi dalam ekonomi keluarga, itu adalah bentuk dukungan dan kekuatan tambahan, bukan kewajiban utama," ujarnya.

Pentingnya Kerja Sama dan Dukungan Kebijakan

Anis menekankan pentingnya kerja sama antara suami dan istri dalam mengelola ekonomi keluarga agar beban tidak bertumpu pada satu pihak.

"Mengelola ekonomi keluarga itu membutuhkan kerja sama. Suami dan istri perlu saling memahami, berkomunikasi dengan baik, dan berbagi peran secara bijak. Dengan begitu, beban tidak bertumpu pada satu pihak, dan keluarga bisa lebih kuat menghadapi tantangan," jelasnya.

Ia juga menilai ketangguhan perempuan Indonesia perlu didukung kebijakan yang berpihak, terutama dalam membuka akses permodalan, pelatihan, dan perlindungan sosial, mengingat potensi besar perempuan di sektor UMKM.

"Perempuan punya potensi besar, terutama di sektor UMKM. Karena itu, akses permodalan, pelatihan, dan perlindungan sosial harus benar-benar diperkuat, supaya perempuan bisa lebih berkembang secara ekonomi," katanya.

Momentum Idulfitri, lanjut Anis, juga menjadi pengingat pentingnya semangat gotong royong dan saling membantu di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

"Idul Fitri mengingatkan kita untuk saling peduli. Di tengah situasi yang menantang, semangat berbagi dan gotong royong menjadi sangat penting untuk menjaga kekuatan sosial kita," tuturnya.

Ia berharap perempuan Indonesia dapat semakin tangguh tanpa harus menanggung beban sendirian, dengan kemitraan yang seimbang dalam keluarga.

"Harapan saya, perempuan Indonesia bisa semakin tangguh tanpa harus menanggung beban sendirian. Dengan kerja sama yang baik antara suami dan istri, serta saling memahami peran masing-masing, keluarga akan menjadi lebih kokoh. Dari keluarga yang kuat dan harmonis, insyaAllah ketahanan ekonomi bangsa juga akan semakin terjaga," pungkasnya.

Penulis :
Arian Mesa