Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Warga Tukka Tetap Bakar Lemang di Atas Reruntuhan Rumah Terdampak Banjir Demi Jaga Tradisi Lebaran

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Warga Tukka Tetap Bakar Lemang di Atas Reruntuhan Rumah Terdampak Banjir Demi Jaga Tradisi Lebaran
Foto: Warga desa Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sedang memasak lemang di atas tanah yang mengubur rumahnya akibat terjangan banjir bandang pada November 2025 19/3/2026 (sumber: ANTARA/Chairul Rohman)

Pantau - Warga Kecamatan Tukka, Kelurahan Pasar Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, tetap mempertahankan tradisi memasak lemang menjelang Lebaran meskipun rumah mereka rusak akibat banjir bandang pada November 2025.

Tradisi memasak lemang yang berbahan dasar beras ketan dan santan yang dimasak di dalam bambu ini telah menjadi kebiasaan tahunan masyarakat setempat, meski berasal dari budaya Minang.

Pada Jumat, 19 Maret 2026, Lismawarni Siagian terlihat memasak lemang di atas tanah bekas rumahnya yang kini telah terkubur lumpur akibat banjir.

Ia diketahui saat ini tinggal di rumah kontrakan di desa tetangga, namun tetap kembali ke lokasi rumah lamanya untuk mempertahankan tradisi tersebut.

"Sengaja saya bakar lemang ini, di atas rumah saya yang terkubur. Karena memang setiap tahunnya, saya membuat lemang, ya, di sini," ungkapnya.

Rumah Lismawarni bersama bangunan lain di sekitarnya telah tertimbun lumpur hingga rata dengan tanah akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.

Lokasi yang sebelumnya merupakan permukiman di pinggir jalan kini telah mengeras dan bahkan dapat dilintasi kendaraan.

Tradisi Lemang Jadi Simbol Kebersamaan

Aktivitas memasak lemang di Tukka umumnya dilakukan secara gotong royong oleh warga menjelang Idul Fitri sebagai bagian dari kebersamaan.

Warga membakar bambu berisi lemang di atas api unggun sambil berkumpul dan saling membantu dalam proses memasak.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi tradisi kuliner, tetapi juga sarana menjaga hubungan sosial antarwarga pascabencana.

Lemang Juga Dijual untuk Tambahan Penghasilan

Di lokasi lain yang tidak jauh, Hotnida Simanjuntak bersama keluarganya juga memasak lemang di halaman rumahnya yang hampir tertimbun lumpur.

Lemang yang dibuat tidak hanya untuk konsumsi pribadi, tetapi juga dijual kepada warga sekitar dengan harga sekitar Rp 40.000 per batang.

"Lemang ini tidak untuk kita saja, ada juga yang memang pesanan dari warga di sini. Tidak banyak memang, tapi ya alhamdulillah," ia mengungkapkan.

Penjualan lemang tersebut menjadi salah satu cara warga memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi pascabencana.

Penulis :
Leon Weldrick