Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Paskah di Lapas Maluku Menguatkan Nilai Kasih dan Pengampunan bagi Warga Binaan

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Paskah di Lapas Maluku Menguatkan Nilai Kasih dan Pengampunan bagi Warga Binaan
Foto: Perayaan Paskah di balik jeruji di Maluku sebagai refleksi perbaikan diri bagi warga binaan ditengah keterbatasan ruang dan waktu (sumber: ANTARA/Dedy Azis)

Pantau - Perayaan Paskah di lembaga pemasyarakatan di Maluku menjadi momentum refleksi diri bagi warga binaan yang memperkuat nilai kasih, pengampunan, dan harapan di tengah keterbatasan ruang dan waktu di Ambon, Sabtu (4/4/2026).

Paskah Jadi Ruang Refleksi dan Pembinaan Diri

Paskah di lapas dan rutan Maluku tidak sekadar perayaan tahunan, tetapi menjadi perjalanan batin yang sunyi dan menggugah bagi warga binaan.

Di balik tembok tinggi dan pintu besi terkunci, gema doa dan nyanyian pujian terdengar jernih dan menyentuh hati.

Dalam ruang terbatas, waktu terasa berjalan lebih lambat dan setiap ayat kitab suci menjadi lebih bermakna bagi para peserta ibadah.

Rangkaian ibadah Pekan Suci meliputi Kamis Putih, Jumat Agung, hingga Perjamuan Kudus yang berlangsung khidmat dan penuh perenungan.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku Ricky Dwi Biantoro menilai momentum ini penting bagi warga binaan Kristiani karena membuka ruang kesadaran baru untuk menata kehidupan.

Ia mengungkapkan, "Nilai kasih, pengorbanan, dan pengampunan membuka ruang kesadaran baru untuk menata ulang kehidupan."

Pendekatan pembinaan yang memadukan aspek spiritual, mental, dan sosial dinilai efektif dalam membentuk karakter warga binaan sebelum kembali ke masyarakat.

Ibadah Khidmat hingga Kisah Haru Warga Binaan

Implementasi pembinaan terlihat di Lembaga Pemasyarakatan Piru saat Gereja Ebenhaezer dipenuhi warga binaan sejak pagi dengan suasana ibadah yang hening dan reflektif.

Ibadah Perjamuan Kudus membawa warga binaan pada refleksi mendalam tentang hubungan spiritual dengan Tuhan.

Kebaktian Jumat Agung berlangsung emosional ketika kisah pengorbanan Yesus Kristus dibacakan hingga membuat sejumlah warga binaan menitikkan air mata.

Kepala Lapas Piru Hery Kusbandono menyatakan kegiatan keagamaan membantu warga binaan membangun kedekatan dengan Tuhan dan memperbaiki diri.

Ia mengatakan, "Kegiatan tersebut menumbuhkan semangat memperbaiki diri dan menjalani hidup lebih baik."

Seorang warga binaan berinisial S mengungkapkan pengalaman pribadinya setelah mengikuti ibadah.

Ia mengungkapkan, "Ibadah tersebut memberinya kekuatan batin dan harapan baru."

Suasana serupa terjadi di Lapas Kelas III Saparua Tanah Dusrstede yang menggelar ibadah dengan latar laut Banda serta diikuti kegiatan ibadah nasional secara virtual.

Kepala Subseksi Pembinaan Ellen D Anakotta menilai kegiatan ini memberikan motivasi perubahan diri dan memperkuat komitmen pembinaan menyeluruh.

Di Rumah Tahanan Negara Kelas IIA Ambon, Pekan Suci dimulai sejak Kamis Putih dengan pelaksanaan Ekaristi yang diikuti warga binaan Katolik secara khusyuk.

Kehadiran Uskup Seno Ngutra dalam homili menekankan nilai kerendahan hati, pelayanan, dan kesetiaan iman sebagai pedoman hidup.

Pelaksana tugas Karutan Ambon Jefry Persulessy menyatakan kegiatan keagamaan memiliki peran strategis dalam pembinaan.

Ia menyatakan, "Selain memenuhi hak beribadah, kegiatan membantu refleksi diri dan memperkuat semangat perubahan."

Petugas pemasyarakatan turut berperan memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan aman, tertib, dan kondusif sehingga suasana menjadi lebih humanis.

Harapan Baru di Balik Jeruji Besi

Paskah di lapas-lapas Maluku menghadirkan makna mendalam sebagai simbol kebangkitan dan harapan baru bagi warga binaan.

Seorang peserta ibadah menegaskan makna tersebut dengan mengatakan, "Di balik jeruji besi, Paskah menghadirkan makna yang berbeda."

Perayaan ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang pemulihan dan kesadaran baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik.

Kasih dan pengampunan menjadi fondasi perubahan hidup bagi warga binaan dalam menjalani masa pembinaan.

Paskah menjadi pengingat bahwa harapan tidak pernah hilang bahkan di tengah keterbatasan.

Penulis :
Shila Glorya