
Pantau - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat peningkatan produksi dan penjualan batu bara sepanjang 2025 meski menghadapi tekanan harga global yang menurun signifikan.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail menyatakan kondisi industri batu bara pada 2025 cukup menantang akibat penurunan harga acuan internasional.
"PT Bukit Asam tentunya dalam menghadapi situasi dan kondisi tersebut, kami mampu menjaga kinerja operasional yang solid serta menunjukkan resilien yang kuat," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/4/2026).
PTBA mencatat produksi batu bara naik 9 persen menjadi 47,2 juta ton, sementara penjualan tumbuh 6 persen menjadi 45,4 juta ton sepanjang 2025.
Kenaikan tersebut sejalan dengan volume angkutan batu bara yang meningkat 6 persen dari 38,2 juta ton pada 2024 menjadi 40,4 juta ton pada 2025.
Arsal menjelaskan bahwa penurunan harga terjadi pada indeks Newcastle yang turun 25 persen serta Indonesian Coal Index (ICI) yang melemah 16 persen secara tahunan.
PTBA menjaga keseimbangan pasar dengan komposisi penjualan 54 persen domestik dan 46 persen ekspor untuk mendukung kebutuhan energi dalam negeri.
Perseroan juga melakukan diversifikasi pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Bangladesh, Vietnam, Korea Selatan, Filipina, hingga mulai merambah Eropa seperti Spanyol dan Rumania.
Pada tahun buku 2025, PTBA membukukan laba bersih Rp2,93 triliun dengan EBITDA sebesar Rp6,08 triliun dan margin sekitar 14 persen.
Arsal menegaskan kondisi keuangan perusahaan tetap solid dengan total aset mencapai Rp43,92 triliun serta arus kas operasi yang tumbuh 24 persen.
"Kami percaya bahwa dengan fundamental yang kuat, strategi yang adaptif, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan, PTBA akan mampu menjaga kinerja positif yang berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi seluruh stakeholder," tuturnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan








