
Pantau - Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka peluang kolaborasi produksi film tentang Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai bagian dari upaya memperkuat diplomasi budaya Indonesia sekaligus memanfaatkan momentum peringatan 400 tahun tokoh tersebut.
Langkah ini dilakukan dengan mendorong pengembangan skenario film serta membuka berbagai skema pendanaan melalui Dana Indonesia Raya sebagai dana abadi kebudayaan.
"Kementerian Kebudayaan juga baru saja meluncurkan Dana Indonesia Raya yang bisa digunakan untuk matching fund. Kita juga baru buka untuk development fee dan post-production khusus film. Sekarang juga ada lomba penulisan skenario film sejarah, serta rencana afirmasi lima film sejarah," ungkap Fadli Zon.
Dukungan Pendanaan dan Program Pengembangan
Kementerian Kebudayaan RI menyediakan skema pendanaan melalui matching fund Dana Indonesia Raya yang dapat dimanfaatkan untuk produksi film sejarah.
Selain itu, pemerintah juga membuka dukungan berupa development fee dan post-production khusus film guna mendorong kualitas produksi.
Upaya ini diperkuat dengan penyelenggaraan lomba penulisan skenario film sejarah untuk melahirkan karya-karya baru yang berbasis riset.
Pemerintah juga merencanakan afirmasi terhadap lima film sejarah nasional sebagai bagian dari strategi penguatan industri perfilman berbasis kebudayaan.
Tantangan Produksi dan Pendekatan Kreatif
Direktur Mizan Grup Haidar Bagir menyatakan ketertarikan mengangkat kisah Syekh Yusuf telah muncul sejak lama karena kompleksitas sosoknya sebagai ulama, sufi, dan pejuang anti-kolonialisme.
"Mizan berpengalaman dalam memproduksi berbagai film nasional, termasuk film Laskar Pelangi. Namun demikian, saya menekankan bahwa produksi film sejarah atau biografi memiliki tantangan tersendiri, terutama dari sisi pembiayaan dan dinamika pasar yang sangat kompetitif," jelasnya.
Tim kreatif Mizan mengusulkan pendekatan dengan menggabungkan narasi sejarah dan cerita kontemporer agar relevan bagi generasi muda.
Pendekatan tersebut didukung riset akademik dari disertasi dan karya ilmiah untuk menjaga akurasi sekaligus memperkaya kedalaman cerita.
Kementerian Kebudayaan menilai pengembangan film tokoh sejarah sebagai langkah strategis untuk memperkuat literasi sejarah, membangun karakter bangsa, serta mendorong kebudayaan menjadi sumber inspirasi industri kreatif nasional.
- Penulis :
- Arian Mesa








