
Pantau - Badan Akreditasi Nasional (BAN) Provinsi Sulawesi Tengah menekankan pentingnya kejujuran, kemitraan, dan pemahaman sistem dalam proses akreditasi satuan pendidikan.
Anggota BAN Sulteng Chadija Alhasni menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan sosialisasi persiapan akreditasi satuan pendidikan Alkhairaat se-Sulawesi Tengah di Gedung PB Alkhairaat, Palu.
Ia mengungkapkan, "Sampaikan saja apa adanya. Tidak perlu takut dimarahi. Sekolah memiliki hak untuk menjelaskan kondisi dan proses yang dilakukan."
Menurutnya, keberhasilan akreditasi sangat bergantung pada keterbukaan dan kejujuran pihak sekolah dalam menyampaikan kondisi sebenarnya.
Chadija menjelaskan bahwa pola akreditasi saat ini telah mengalami perubahan signifikan dibandingkan sebelumnya.
Ia menyampaikan, "Sekarang bukan lagi mengawasi, tetapi kita adalah mitra. Asesor datang untuk bekerja sama dengan satuan pendidikan dalam rangka pertanggungjawaban terhadap negara."
Asesor kini tidak lagi berperan sebagai pengawas, melainkan sebagai mitra kerja bagi satuan pendidikan.
Selain itu, asesor juga terikat kode etik yang melarang adanya permintaan khusus dalam bentuk apapun selama proses akreditasi.
Semua pihak diminta untuk menghindari praktik yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sistem akreditasi terbaru kini difokuskan pada tiga komponen utama penilaian.
Tiga komponen tersebut meliputi kinerja pendidik dalam pembelajaran, kepemimpinan kepala satuan pendidikan, dan iklim lingkungan belajar.
Ia menjelaskan, "Dulu ada delapan standar, sekarang disederhanakan menjadi tiga komponen utama, tetapi tetap mengacu pada standar yang ada."
Proses penilaian dilakukan melalui Sistem Penilaian Akreditasi atau Sispena dengan beberapa tahapan.
Tahapan tersebut mencakup penginputan data, verifikasi dokumen, wawancara, serta observasi langsung oleh asesor.
Ia menegaskan, "Sekarang bukan hanya dokumen, tetapi juga bagaimana sekolah menjelaskan siapa mereka, apa keunggulannya, dan bagaimana proses yang dilakukan. Ini akan dinilai sejak tahap pravisitasi hingga visitasi."
Seluruh data yang diinput harus sesuai dengan kondisi di lapangan dan dapat dibuktikan saat visitasi.
Ia mengingatkan, "Jangan sampai apa yang ditulis tidak sesuai dengan kondisi di lapangan."
- Penulis :
- Ahmad Yusuf






