HOME  ⁄  Nasional

YKAN Latih Ibu-Ibu Pelaku Sasi di Papua Barat Daya untuk Regenerasi Konservasi Laut Berkelanjutan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

YKAN Latih Ibu-Ibu Pelaku Sasi di Papua Barat Daya untuk Regenerasi Konservasi Laut Berkelanjutan
Foto: (Sumber : Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menyelenggarakan kegiatan Pertukaran Pembelajaran Kelompok Sasi Perempuan dari Tiga Kampung di Kabupaten Raja Ampat di Desa Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, Jumat (10/4/2026). ANTARA/Hana Dewi Kinarina Kaban.)

Pantau - Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) memberikan pelatihan kepada ibu-ibu pelaku tradisi sasi di wilayah laut Papua Barat Daya guna mendorong regenerasi praktik adat pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

Pelatihan Komprehensif dan Program Regenerasi

Program pelatihan yang berlangsung selama satu tahun ini bertujuan agar para peserta dapat menjadi pelatih bagi generasi perempuan yang lebih muda.

Manajer Program Kelautan YKAN Hilda Lionata menjelaskan bahwa sasi memiliki nilai yang selaras dengan upaya konservasi modern.

"Kenapa YKAN meregenerasi sasi, karena kami ngerasa sasi ini selaras dengan kegiatan konservasi alam. Karena ini sudah jadi darah dagingnya mereka, adatnya mereka, kenapa gak kami bangkitkan kembali," ungkapnya.

Materi pelatihan mencakup pemahaman regulasi perdagangan spesies sesuai CITES Appendix 2, pengenalan teripang laut dan lobster, serta protokol pemanenan berkelanjutan.

Peserta juga dibekali keterampilan monitoring melalui pencatatan visual dan metode transek garis untuk mendukung pengumpulan data keanekaragaman hayati.

Selain itu, pelatihan meliputi pembukuan sederhana, perawatan perahu dan mesin, teknik free dive, serta penanganan pascapanen teripang dan lobster.

Mencetak Pelatih Baru dan Dampak bagi Kelestarian Laut

Sebagian pelatihan difokuskan pada skema Training of Trainers untuk mencetak pelatih baru dari kalangan perempuan.

Hilda menyatakan bahwa tahun pertama difokuskan untuk konsolidasi peserta perempuan sebelum mereka menjadi pengajar di komunitasnya.

"Tapi, khusus untuk tahun ini, kami mau konsolidating cewek-ceweknya dulu. Karena, kami mau bikin mereka jadi trainers. Nanti tahun kedua mereka yang keliling ke kelompok lelaki sama clan base. Mereka yang ngajar, sudah bukan YKAN lagi," ujarnya.

Ketua Kelompok Praktik Sasi Kampung Aduwei Ribka Botot mengaku program tersebut sangat membantu peningkatan kapasitas kelompoknya.

"Jangan sebatas ini. Tetapi, mungkin ada lagi kita bertemu sama-sama begini, juga berbagi pengalaman. Mungkin yang Mama Ribka tidak tahu, dengan begini Mama Ribka jadi tahu, boleh ngomong, tanya-tanya pengalaman Mama Ribka," tuturnya.

Regenerasi tradisi sasi dinilai penting untuk menjaga kelestarian laut, mencegah penangkapan berlebihan, serta menghindari penggunaan alat tangkap destruktif di wilayah pesisir.

Penulis :
Aditya Yohan