
Pantau - Komisi XIII DPR RI meminta Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) memperkuat pendekatan berbasis riset atau research-based dalam penyusunan peta jalan pembinaan ideologi Pancasila, dalam Rapat Dengar Pendapat di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Dorongan Pendekatan Ilmiah dalam Kebijakan
Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya menekankan pentingnya peralihan dari pendekatan asumtif menuju pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam perumusan kebijakan ideologi.
"Saya ingin menambahkan satu hal yang lebih metodologi saja jadi biar kita saling melengkapi satu dan lain kalau habis ini BPIP ada waktu, cari buku garis masanya Ignatius Wibowo, disertasinya Ignatius Wibowo. Itu mencoba kita melakukan sebuah pendekatan yang scientific approach dalam mengambil sebuah kebijakan jadi tidak asumtif," ujarnya.
Ia menyarankan BPIP memperkuat metodologi melalui kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif serta memperbanyak riset dibandingkan kegiatan sosialisasi.
"Kalau saya sih daripada sosialisasi dibanyakin lebih bagus risetnya yang diperkaya buat laboratoriumnya gunakan pendekatan yang neuroscience base ini, gotong royong ini mau kita upgrade di dalam digital life dan di dalam social life," lanjutnya.
Sinkronisasi Ideologi dengan Realitas Sosial
Willy juga menyoroti pentingnya kejelasan aktor pelaksana ideologi Pancasila agar kebijakan tidak bersifat abstrak.
Ia mengingatkan bahwa setiap ideologi memiliki pilar dominasi dan hegemoni yang membutuhkan aktor nyata sebagai penggerak utama.
Selain itu, ia menilai terdapat kesenjangan antara nilai dasar Pancasila dengan realitas sosial-ekonomi yang cenderung liberal sehingga diperlukan sinkronisasi konkret.
Sebagai langkah lanjutan, Willy mengusulkan pelibatan publik secara luas melalui forum rembuk nasional dalam pembahasan peta jalan dan RUU BPIP.
“Selain peta jalan dengan RUU BPIP itu, dibikin semacam rembuk nasional aja sehingga partisipatorinya terlibat sangat luas. Jangan ini hanya klaim segelintir jadi ada keterlibatan siapa representasi civil society-nya siapa representasi political society-nya siapa representasi business community-nya siapa representasi government-nya terjadi dialog yang benar-benar dari hati ke hati," kata Willy.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








