HOME  ⁄  Nasional

Mentan Ancam Cabut Izin Produsen Minyakita yang Naikkan Harga, Tegaskan Tak Terkait Program B50

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Mentan Ancam Cabut Izin Produsen Minyakita yang Naikkan Harga, Tegaskan Tak Terkait Program B50
Foto: Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ditemui awak media usai rapat dengan 170 bupati seluruh Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian Jakarta, Senin 20/4/2026 (sumber: ANTARA/Harianto)

Pantau - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan akan mencabut izin produsen minyak goreng merek Minyakita jika terbukti menaikkan harga secara tidak wajar dan melanggar ketentuan pemerintah.

Ia menyatakan siap turun langsung menindak produsen yang menjual di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter.

"(Jika menaikkan harga) tu cari masalah. Suruh aja naikkan, aku turun tangan nanti. Coba (aja)," tegasnya.

Ia menambahkan akan berkoordinasi dengan Satuan Tugas Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan dan Mutu Pangan untuk pengawasan dan penindakan.

"Beritahu mereka produsen minyak goreng yang bermain-main aku cek. Bila melanggar regulasi, aku tindak. Kami bersama dengan Satgas," ujarnya.

Dugaan Permainan Harga di Tengah Pasokan Melimpah

Mentan menilai kenaikan harga minyak goreng di tengah pasokan bahan baku yang melimpah merupakan sebuah anomali.

Ia menduga adanya praktik permainan dalam rantai distribusi yang menyebabkan harga naik tidak wajar di pasaran.

Pemerintah, kata dia, akan menelusuri penyebab kenaikan harga tersebut melalui koordinasi intensif dengan Satgas.

Komitmen pemerintah adalah melindungi masyarakat serta menjaga harga minyak goreng tetap terjangkau.

Bantah Kaitan dengan Program Biodiesel B50

Mentan menegaskan kenaikan harga minyak goreng tidak berkaitan dengan program biodiesel B50.

"Enggak (ada kaitannya), kita kan ekspor dong ke luar negeri," ungkapnya.

Ia menjelaskan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia mencapai sekitar 45 juta hingga 50 juta ton per tahun dengan total produksi terkini sekitar 52 juta ton.

Dari jumlah tersebut, sekitar 26 juta hingga 32 juta ton diekspor berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, sementara kebutuhan domestik termasuk minyak goreng sekitar 20 juta ton.

Program biodiesel dari B40 ke B50 hanya menyerap sekitar 5,3 juta ton CPO dan dinilai mampu menekan impor solar hingga 5 juta ton per tahun.

"Ternyata apa yang terjadi? Karena harga CPO naik, ini sawit dipelihara dengan baik, pupuknya diperbaiki, naik berapa? 6 juta ton. Kita belum pakai CPO-nya sudah naik 6 juta ton. Ekspor kita 32 juta ton itu GAPKI," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa tambahan produksi tersebut bahkan belum sepenuhnya terserap dan sudah cukup untuk menutup kebutuhan biodiesel.

"B50 itu bukan mengambil dari minyak goreng, tapi dari alokasi ekspor. Jadi tidak ada hubungannya dengan kenaikan harga minyak goreng," tutupnya.

Penulis :
Arian Mesa