
Pantau - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) berhasil mentranslokasikan satu individu orang utan dari Kabupaten Kayong Utara guna mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar.
Proses Evakuasi dan Penanganan Satwa
Translokasi dilakukan dari Dusun Pemangkat Jaya, Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir setelah adanya laporan warga terkait kemunculan orang utan di area perkebunan sejak akhir tahun sebelumnya.
Satwa tersebut sempat menetap di kebun warga dan menimbulkan kerugian serta kekhawatiran.
Kegiatan ini melibatkan Balai Taman Nasional Gunung Palung, TNI, Polri, serta masyarakat setempat.
Perwakilan YIARI Muhadi menyampaikan, "Translokasi dilakukan untuk menjamin keselamatan orang utan sekaligus mengurangi potensi konflik dengan manusia. Ini merupakan langkah terakhir setelah melalui proses asesmen yang komprehensif."
Proses evakuasi dilakukan menggunakan senapan bius oleh petugas berizin dengan perhitungan dosis yang cermat.
Pemeriksaan medis dilakukan oleh dokter hewan untuk memastikan kondisi satwa sebelum dipindahkan.
Dokter hewan Rachel menyampaikan, "Secara umum kondisi orang utan sehat dan layak untuk ditranslokasikan."
Pelepasliaran dan Upaya Konservasi
Orang utan kemudian dipindahkan ke Taman Nasional Gunung Palung yang memiliki habitat aman serta ketersediaan pakan yang memadai.
Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran ditempuh sekitar dua jam menggunakan transportasi darat dan air.
Setelah dilepasliarkan, orang utan menunjukkan perilaku liar dengan langsung menjauh dari tim.
Kepala BKSDA Kalbar Murlan Dameria Pane mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam keberhasilan kegiatan tersebut.
Ia mengungkapkan, "Translokasi ini menjadi bagian dari upaya penyelamatan orang utan sekaligus mengurangi konflik dengan manusia. Dukungan masyarakat dan kolaborasi lintas pihak sangat menentukan keberhasilan kegiatan ini."
Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul menekankan pentingnya perencanaan tata guna lahan untuk mencegah konflik serupa di masa depan.
Ia menyampaikan, “Perubahan tata guna lahan yang cepat menjadi tantangan besar bagi orang utan untuk bertahan. Diperlukan komitmen bersama agar manusia dan satwa dapat hidup berdampingan secara berkelanjutan.”
- Penulis :
- Gerry Eka







