HOME  ⁄  Nasional

Kemarau Panjang 2026 Picu Kewaspadaan, Indonesia Perkuat Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kemarau Panjang 2026 Picu Kewaspadaan, Indonesia Perkuat Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan
Foto: (Sumber : Sejumlah relawan menyiapkan peralatan untuk pemadaman kebakaran hutan dan lahan saat Apel Gelar Pasukan dan Sarana Prasarana Kebakaran Hutan dan Lahan di Polda Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Jumat (17/4/2026). Apel gelar pasukan yang diikuti anggota Polri, TNI, BPBD, Manggala Agni, relawan, dan instansi terkait tersebut untuk meningkatkan kesiapan petugas dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah. ANTARA FOTO/Auliya Rahman/tom..)

Pantau - Pemerintah Indonesia memperkuat kesiapsiagaan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring potensi kemarau panjang 2026 yang diperkirakan membawa risiko tinggi di berbagai wilayah rawan.

Ancaman Kemarau dan Wilayah Rawan

Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diperkirakan mulai meluas pada pertengahan tahun dan mencapai puncaknya pada Juli hingga September 2026.

Kondisi ini ditandai penurunan curah hujan dan kelembapan tanah, terutama di lahan gambut yang rentan terbakar.

Enam provinsi menjadi perhatian utama, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa kombinasi durasi kemarau panjang dan minimnya curah hujan meningkatkan risiko kebakaran sejak awal musim.

Di wilayah gambut, api tidak hanya membakar permukaan tetapi juga merambat di bawah tanah sehingga sulit dipadamkan dan berpotensi muncul kembali.

Evaluasi dan Penguatan Sistem Pencegahan

Pemerintah menilai kebakaran hutan dan lahan bukan peristiwa acak, melainkan pola berulang yang dipengaruhi siklus iklim dan tekanan terhadap lahan.

Pada 2025, luas karhutla tercatat sekitar 213.984 hektare, turun dibandingkan 376.805 hektare pada 2024 dan jauh lebih rendah dari 1,6 juta hektare pada 2019.

Jumlah titik panas juga menurun drastis menjadi sekitar 2.705 titik pada 2025, dibandingkan 29.341 titik pada 2019.

Penurunan ini menunjukkan efektivitas pendekatan pencegahan melalui penguatan pengawasan, patroli terpadu, serta restorasi gambut.

Namun, pemerintah menilai capaian tersebut harus diuji kembali menghadapi tekanan iklim yang lebih ekstrem pada 2026.

Kesiapsiagaan kini difokuskan pada sistem yang mampu mendeteksi dini, merespons cepat, dan menahan potensi kebakaran sebelum meluas.

Penulis :
Ahmad Yusuf