HOME  ⁄  Nasional

Billy Mambrasar Dorong Integrasi MBG dan UMKM untuk Atasi Krisis Suplai Pangan di Papua

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Billy Mambrasar Dorong Integrasi MBG dan UMKM untuk Atasi Krisis Suplai Pangan di Papua
Foto: (Sumber: Acara Pembukaan Musrenbang RKPD 2027 dan Penambahan Otsus Papua di Jayapura, Papua, Kamis (30/4/2026). (ANTARA/Dokumentasi Pribadi).)

Pantau - Anggota Komite Eksekutif Presiden Otonomi Khusus Papua Billy Mambrasar mendorong integrasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan UMKM dan koperasi lokal guna menjaga stabilitas suplai pangan di Papua di tengah keterbatasan pasokan, Jumat.

Krisis Suplai Ancam Program Nasional

Billy mengungkapkan Papua saat ini menghadapi tekanan serius dalam rantai pasok pangan, ditandai dengan kenaikan harga serta keterbatasan komoditas seperti ikan, ayam, telur, dan daging.

"Papua menghadapi tantangan struktural dalam rantai pasok pangan. Ketika suplai ikan, ayam, telur, dan daging terbatas, maka dampaknya langsung terasa, bukan hanya pada harga melainkan juga pada program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis,” ungkapnya.

Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi mengganggu kualitas program MBG jika pasokan bahan baku tidak terpenuhi secara optimal.

Selain itu, ia mengaku menerima laporan dari sejumlah kabupaten terkait kesulitan suplai bahan pangan utama, termasuk buah dan protein hewani.

Solusi Penguatan Produksi dan Logistik

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Billy merekomendasikan penguatan produksi lokal melalui sektor perikanan dan peternakan berbasis masyarakat serta pembangunan infrastruktur seperti cold storage dan pusat distribusi pangan.

Ia juga menekankan pentingnya intervensi logistik nasional, termasuk subsidi distribusi untuk wilayah Papua yang memiliki tantangan geografis.

"Koordinasi lintas kementerian untuk memastikan kesinambungan antara sektor pangan, kesehatan, dan ekonomi," ujarnya.

Selain itu, ia mengusulkan pembangunan industri pupuk lokal serta pabrik pakan ternak guna menekan biaya produksi dan mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Billy menegaskan pendekatan afirmatif diperlukan agar program nasional dapat berjalan efektif di Papua.

"Kalau tidak, maka program-program nasional akan terus menghadapi kendala di lapangan,” tuturnya.

Ia menilai keberhasilan program pemerintah di wilayah timur Indonesia sangat bergantung pada kesiapan ekosistem pangan yang kuat, stabil, dan berkelanjutan.

Penulis :
Aditya Yohan