
Pantau - Mantan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (KAI) Riza Primadi menyoroti lemahnya tata kelola di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan sebagai faktor krusial yang berpotensi memicu kembali kecelakaan kereta api, di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Koordinasi DJKA dan KAI Dinilai Belum Selaras
Riza menyatakan banyak proyek di DJKA belum sesuai kebutuhan operasional KAI sehingga berdampak pada keselamatan transportasi.
"Selama ini hampir sebagian besar proyek di DJKA belum sesuai dengan kebutuhan KAI," ujarnya.
Ia juga menilai koordinasi antara regulator dan operator masih lemah sehingga kebijakan tidak tepat sasaran.
“Saya tidak bisa meramalkan, tapi yang pasti akan terjadi lagi kalau DJKA masih berperilaku seperti sekarang ini,” tegasnya.
Menurutnya, sinergi antara DJKA dan KAI menjadi kunci agar sistem perkeretaapian lebih aman dan efisien.
Proyek DDT Manggarai–Cikarang Tersendat
Riza turut menyoroti lambannya penyelesaian proyek Double Double Track (DDT) segmen Manggarai–Cikarang yang dinilai berdampak langsung pada keselamatan perjalanan.
“Lahan sudah dibebaskan KAI, tapi eksekusinya jalan di tempat,” katanya.
Ia menjelaskan proyek yang seharusnya rampung sejak 2022 itu baru terealisasi sebagian hingga lintas Jatinegara–Bekasi, sementara jalur hingga Cikarang belum selesai.
Keterlambatan ini menyebabkan jalur masih digunakan bersama oleh KRL dan kereta jarak jauh sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.
Pengamat transportasi Darmaningtyas menambahkan proyek DDT terkendala pembebasan lahan dan pendanaan.
“Saat itu memang tidak ada kejelasan untuk bertindak karena terkendala soal pembebasan lahan,” ungkapnya.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan bersama KAI tengah mempercepat penertiban perlintasan sebidang sebagai langkah meningkatkan keselamatan, menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto pascainsiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





