HOME  ⁄  Nasional

Pantura Jawa Tergerus, Peneliti BRIN Ungkap 65,8 Persen Garis Pantai Alami Erosi Parah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pantura Jawa Tergerus, Peneliti BRIN Ungkap 65,8 Persen Garis Pantai Alami Erosi Parah
Foto: (Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendorong masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik pada Lebaran 2026 untuk memanfaatkan Jalur Pantai Selatan (Pansela) Pulau Jawa sebagai alternatif perjalanan. Selain membantu mengurai kepadatan lalu lintas di Jalur Pantai Utara (Pantura) dan Jalan Tol Trans Jawa, Pansela juga menawarkan pengalaman perjalanan yang berbeda dengan panorama pesisir selatan Pulau Jawa. (ANTARA/HO - Kementerian PU).)

Pantau - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan sebanyak 65,8 persen garis Pantai Utara (Pantura) Jawa mengalami erosi berdasarkan analisis data satelit periode 2000 hingga 2024.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Tubagus Solihuddin mengatakan fenomena ini terjadi akibat tekanan pembangunan permukiman dan aktivitas ekonomi yang masif di wilayah pesisir.

Ia menjelaskan bahwa kondisi geologi Pantura yang didominasi endapan belum terkompaksi membuat wilayah tersebut rentan tergerus.

"Jadi, 84 persen Pantai Utara Jawa itu tersusun oleh endapan pluvial dan endapan delta. Secara geologi endapan yang menyusun Pantai Utara Jawa itu masih unconsolidated. Masih belum terkompaksi dengan kuat sehingga sangat mudah mengalami erosi dan pemampatan," ungkapnya.

Erosi Masif dan Dampak Nyata di Sejumlah Wilayah

Tubagus memaparkan bahwa laju erosi mencapai 65,8 persen, jauh lebih besar dibandingkan akresi yang hanya 34,2 persen di sepanjang Pantura Jawa.

Ia juga menyoroti anomali karena erosi besar terjadi di kawasan delta yang seharusnya menjadi area sedimentasi alami.

Di Tanjung Pontang, Serang, daratan seluas 1,72 kilometer persegi dilaporkan hilang akibat erosi yang dipicu pembelokan aliran Sungai Ciujung Baru.

Di Muara Gembong, Bekasi, air laut dilaporkan masuk hingga empat kilometer ke daratan dan merendam lebih dari 1.000 hektare tambak serta infrastruktur publik.

Kondisi serupa terjadi di Subang dan Indramayu, di mana ratusan hektare tambak terendam dan jalan desa sepanjang hingga satu kilometer ikut tergerus abrasi.

Kenaikan Air Laut Perparah Krisis Pesisir

Tubagus menambahkan bahwa wilayah Pantura yang didominasi dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 10 meter semakin rentan terhadap dampak perubahan lingkungan.

Ia menyebutkan bahwa kenaikan muka air laut dan penurunan tanah memperparah kondisi erosi yang terjadi.

Berdasarkan data altimetri 1993 hingga 2025, kenaikan muka air laut di Pantura mencapai rata-rata 0,41 hingga 0,42 sentimeter per tahun.

"Pantura Jawa sedang menghadapi krisis nyata. Tadi disampaikan tantangannya bukan hanya erosi, abrasi, banjir, tapi juga kenaikan muka air laut dan amblesan tanah. Dan itu bukan isu lokal, itu isu nasional," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa penanganan krisis pesisir membutuhkan pendekatan lintas sektoral berbasis riset dan data ilmiah yang kredibel.

Tubagus juga mendorong kebijakan yang mengedepankan keseimbangan ekosistem untuk menjaga keberlanjutan kawasan Pantura sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Penulis :
Aditya Yohan