
Pantau - Bank Indonesia menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.400 per dolar AS masih sejalan dengan tren mayoritas mata uang negara emerging market.
Pelemahan Rupiah Seiring Tekanan Global
Bank Indonesia melalui Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan mata uang negara berkembang lainnya.
“Philippine peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand baht melemah 5,04 persen, India rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chile peso (-4,24 persen), Indonesia rupiah (-3,65 persen), dan Korea won (-2,29 persen),” ujarnya.
Nilai tukar rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.426 per dolar AS pada Selasa pagi di pasar valuta asing global.
Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada pergerakan pasar keuangan internasional.
Strategi BI Jaga Stabilitas Nilai Tukar
Bank sentral menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental ekonomi.
Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen seperti transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, serta domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.
“Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global,” kata Erwin.
Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari kebijakan stabilisasi.
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS, yang dinilai masih berada di atas standar kecukupan internasional.
BI menegaskan komitmen untuk terus mengambil langkah terukur guna menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





