HOME  ⁄  Nasional

Pengamat Nilai Batu Bara Masih Relevan Jaga Ketahanan Energi di Tengah Geopolitik Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pengamat Nilai Batu Bara Masih Relevan Jaga Ketahanan Energi di Tengah Geopolitik Global
Foto: (Sumber: Sejumlah truk pengangkut batu bara melintas di area pertambangan yang berada di kawasan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Rabu (22/4/2026). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara acuan (HBA) periode kedua April 2026 naik menjadi 103.43 dolar AS per ton dari 99.87 dolar AS per ton pada periode pertama April 2026. ANTARA FOTO/Angga Palguna/sgd..)

Pantau - Direktur Eksekutif Daulat Energi Ridwan Hanafi menyatakan batu bara masih menjadi penopang utama ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global pada Selasa, 5 Mei 2026.

Batu Bara Jadi Penopang Stabilitas Energi

Ridwan menilai Indonesia berada pada posisi relatif aman karena memiliki sumber daya energi domestik yang kuat, khususnya batu bara.

"Indonesia berada pada posisi yang relatif lebih aman. Salah satu faktor utamanya adalah kekuatan sumber daya energi domestik, khususnya batu bara yang hingga kini masih menjadi penopang utama pembangkit listrik nasional," ujarnya.

Ia menjelaskan ketegangan geopolitik seperti konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina telah memicu lonjakan harga minyak dan gas serta mengganggu pasokan energi global.

"Seperti kita ketahui perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang di mediasi oleh Pemerintah Pakistan telah gagal mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik. Tentu kegagalan ini memicu lonjakan harga minyak dan gas alam, terus meningkat dan gangguan pasokan energi global mengalami tekanan besar bagi banyak negara, terutama yang bergantung pada impor energi," katanya.

Tantangan Ketergantungan Impor dan Strategi Energi

Berdasarkan data Kementerian ESDM, Indonesia memiliki cadangan batu bara sekitar 31,9 miliar ton dengan total sumber daya mencapai 97,96 miliar ton.

Ridwan menyebut kekuatan tersebut membuat biaya pembangkitan listrik lebih terkendali sehingga dampak terhadap inflasi dan daya beli masyarakat dapat diminimalkan.

"Biaya pembangkitan listrik dapat lebih terkendali sehingga dampaknya terhadap inflasi dan daya beli masyarakat bisa diminimalkan," tuturnya.

Namun demikian, ia mengingatkan Indonesia masih menghadapi ketergantungan pada impor minyak dan sebagian gas.

"Di sisi lain, tantangan ke depan tidaklah sederhana. Indonesia masih menghadapi ketergantungan terhadap impor minyak dan sebagian gas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kuat di batu bara, sektor migas nasional masih perlu diperkuat," ungkapnya.

Ia menekankan perlunya peningkatan produksi dalam negeri serta strategi energi yang seimbang antara pemanfaatan batu bara, penguatan migas, dan pengembangan energi baru terbarukan.

Penulis :
Aditya Yohan