HOME  ⁄  Nasional

Pemerintah Perkuat Tata Kelola Daycare dan Dorong Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Pemerintah Perkuat Tata Kelola Daycare dan Dorong Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga
Foto: Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK Woro Srihastuti Sulistyaningrum. (sumber: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari)

Pantau - Pemerintah terus memperbaiki tata kelola tempat penitipan anak atau daycare guna melindungi anak dan keluarga sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Penguatan Standar dan Perizinan Daycare

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menyampaikan bahwa pemerintah fokus memperkuat standar layanan daycare di Indonesia.

Ia mengungkapkan, "Sekarang yang sedang kami lakukan di sini adalah bagaimana kita menguatkan tata kelola daycare-nya, supaya mereka dari sisi standar, perizinan, dan mekanisme kerjanya itu benar-benar memiliki paling tidak standar minimum layanan, yang memang seharusnya disiapkan oleh para penyedia layanan daycare ini."

Ia menegaskan bahwa pengasuhan anak pada dasarnya merupakan tanggung jawab utama keluarga sebagai pengasuh inti.

Namun, ia menjelaskan bahwa keterbatasan orang tua yang bekerja membuat keberadaan daycare tetap dibutuhkan sebagai solusi pengasuhan sementara.

Ia menyatakan, "Sebenarnya pengasuhan itu harus dikembalikan kepada keluarga, karena tugas utama mengasuh itu adalah orang tua sebagai pengasuh utama anak-anaknya. Tetapi karena memang tidak bisa dengan adanya kesibukan dan keterbatasan-keterbatasan, bisa digunakan pengasuhan sementara yang ada di daycare, mau tidak mau kita harus rely on (bergantung) di situ."

Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga

Pemerintah melalui Kemenko PMK juga menginisiasi program Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga atau Satu Jam-Ku untuk meningkatkan kualitas interaksi keluarga.

Program ini bertujuan mengurangi penggunaan gawai atau screen time serta mendorong aktivitas bersama seperti membaca, bermain, belajar, rekreasi, hingga beribadah.

Ia menegaskan, "Intinya, tidak perlu membuat program baru. Prinsipnya adalah murah dengan dampak yang besar, sehingga gerakan ini bisa disinergikan dengan program yang sudah ada."

Program tersebut dapat diintegrasikan dengan kegiatan yang telah berjalan di daerah melalui Organisasi Perangkat Daerah tanpa membebani pembentukan program baru.

Ia menjelaskan, "Aktivitasnya bisa bersama siapa saja di dalam keluarga, yang dibutuhkan adalah kesetaraan dan pembagian peran yang jelas. Kuncinya adalah kesepakatan dalam keluarga. Misalnya, jika ibu bekerja, maka ayah mengambil peran, atau sebaliknya, ketika ayah pulang kerja, waktu tersebut digunakan untuk bersama anak, bukan hanya untuk makan lalu tidur atau kembali bekerja dengan laptop."

Pemerintah juga menekankan pentingnya kesetaraan peran antara anggota keluarga dalam pengasuhan anak.

Ia menyampaikan, "Komitmen tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari keluarga. Oleh karena itu sosialisasi, penyadaran, dan pembekalan kepada keluarga menjadi sangat penting. Upaya ini tidak akan berhasil jika hanya dibebankan kepada satu pihak, jadi, harus dilakukan bersama-sama. Itulah yang diharapkan."

Penulis :
Shila Glorya