
Pantau - Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan mengandalkan enam sekolah untuk mengikuti verifikasi lapangan Calon Sekolah Adiwiyata Kota sebagai bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan pendidikan.
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan Dedy Setiono mengatakan penilaian Adiwiyata mencakup berbagai aspek perilaku berbudaya lingkungan hidup di sekolah.
“Penilaian mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan perilaku berbudaya lingkungan hidup,” kata Dedy di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan aspek penilaian meliputi pengelolaan sampah, penghematan energi listrik, hingga kondisi kantin sekolah yang harus menyediakan makanan sehat.
“Kantin tidak diperbolehkan menjual makanan yang mengandung bahan pengawet atau pewarna buatan secara berlebihan, demi menjaga kesehatan seluruh komunitas sekolah,” ujarnya.
Enam Sekolah Jadi Sampel Verifikasi
Enam sekolah yang mengikuti verifikasi lapangan tersebut yakni SMPN 267 Jakarta, SMPN 12 Jakarta, SMP Labschool Kebayoran Baru, SDN Pasar Minggu 02, SDN Lenteng Agung 07, dan SDN Kebagusan 01.
Tim verifikasi lapangan yang terdiri dari sejumlah perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah juga memeriksa kondisi tanaman di lingkungan sekolah.
Pemeriksaan meliputi tanaman obat keluarga, tanaman hias, hingga pohon peneduh untuk memastikan lingkungan sekolah tetap hijau, rindang, dan nyaman bagi proses belajar.
“Tujuan utamanya adalah menciptakan sekolah yang bersih, asri, dan sehat. Namun yang paling penting adalah menanamkan kebiasaan baik kepada seluruh warga sekolah, terutama peserta didik,” kata Dedy.
Ia menyebut pada tahun ini terdapat 26 sekolah di Jakarta Selatan yang mengikuti program Adiwiyata.
Namun, hanya enam sekolah yang dipilih sebagai sampel dalam proses verifikasi lapangan.
Siswa Didorong Biasakan Pilah Sampah
Dedy mengatakan pemilihan sekolah mempertimbangkan hasil penilaian administrasi, baik sekolah dengan nilai tinggi maupun rendah.
“Kunjungan ke sekolah dengan nilai rendah bertujuan untuk memastikan kondisi lapangan secara langsung, apakah sekolah tersebut memiliki potensi yang belum tergambar dalam dokumen atau masih memerlukan pembinaan lebih lanjut,” ucapnya.
Ia juga mengimbau seluruh warga sekolah, terutama siswa, membiasakan diri memilah sampah sejak dini.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis sampah sekaligus mengurangi beban sampah di TPST Bantar Gebang.
Sementara itu, Kepala SMPN 12 Jakarta Setiawan mengaku bangga sekolahnya ikut dalam program tersebut.
“Semoga setiap lulusan sekolah ini memiliki wawasan lingkungan yang luas dan kesadaran tinggi terhadap kelestarian lingkungan,” kata Setiawan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





