
Pantau - Sawit yang merupakan komoditas penghasil devisa negara dari pungutan ekspor mengalami sejumlah tantangan produktivitas. Sejalan dengan bertambahnya konsumsi minyak sawit dalam negeri dan penerapan program B50 pada bulan Juni, kebutuhan minyak sawit terus meningkat.
Kebutuhan minyak sawit nasional diproyeksi bisa mencapai 41 juta ton pada tahun 2045 seiring dengan bertambahnya konsumsi minyak sawit dalam negeri. Agar kebutuhan dalam negeri terpenuhi tanpa mengurangi volume ekspor, Indonesia dirasa harus berbenah memaksimalkan produktivitas kelapa sawit yang potensi sebenarnya bisa mencapai 5-6 ton Crude Palm Oil (CPO) per hektar per tahun.
Menjawab tantangan tersebut, Media Perkebunan didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyelenggarakan Teknis Kelapa Sawit (TKS), Pameran, dan Field Trip pada tanggal 28 - 30 April 2026 di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Tengah, Kalteng.
Prof. Dr. Bungaran Saragih, M.Ec., dalam keynote speech-nya yang diwakili oleh Dr. Gusti A. Gultom, S.Pt., M.Si. sebagai asisten memaparkan bagaimana sawit bukan hanya sebagai penyumbang devisa terbesar, tetapi juga stabilisator ekonomi nasional. Tiga krisis besar yang pernah dialami Indonesia, yaitu krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008, serta krisis pandemi COVID-19 pada 2020–2021 membawa tekanan berat seperti pelemahan nilai tukar, meningkatnya pengangguran, serta lonjakan kemiskinan. “Namun, ada satu sektor yang secara konsisten hadir sebagai penyangga, bahkan penyelamat ekonomi nasional di masa krisis yaitu sektor kelapa sawit,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Bungaran menjelaskan beberapa faktor utama yang membuat sawit mampu menjadi stabilisator ekonomi nasional. Salah satunya adalah basis sektor sawit yang sangat luas dan melibatkan jutaan tenaga kerja. “Sektor sawit memiliki keterlibatan sosial-ekonomi yang sangat luas, dengan lebih dari 16 juta tenaga kerja. “Dalam setiap krisis, ketika banyak sektor goyah, sawit tetap berdiri tegak,” pungkas Prof. Bungaran,” pungkasnya.
Dalam hal peningkatan produktivitas, peremajaan perkebunan kelapa sawit rakyat (PSR) sangat mendukung ketahanan pangan dan energi nasional dalam upaya menjamin ketersediaan minyak nabati pangan dan bahan bakar nabati. Dr. Gusti Artama Gultom yang juga sebagai Dewan Pakar Media Perkebunan dalam paparannya menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan tanaman tua, produktivitas sawit setelah replanting mengalami peningkatan sebanyak lebih dari 3 ton CPO/ha/tahun).
"Kebutuhan CPO untuk pangan dan energi akan mengalami tren naik, implementasi B50 membutuhkan setidaknya 17-18 juta ton CPO dan kebutuhan untuk pangan pun akan terus naik sehingga harus dilakukan replanting segera," ujarnya.
Namun, dalam praktiknya replanting harus dilakukan dengan teknis budidaya yang tepat. Keterbatasan petani terutama di daerah akan akses informasi yang memadai mengenai budidaya menjadi landasan utama terselenggaranya TKS
Ketua Panitia Pelaksana TKS 2026, Hendra J. Purba menyampaikan bahwa terkait perluasan 2-5 juta ha sawit dan intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas diperlukan penggunaan bibit yang optimal.
“Di daerah sentra kelapa sawit seperti Kotawaringin Barat, peluang ekstensifikasi sudah tidak ada, sehingga satu-satunya cara adalah dengan intensifikasi dengan titik berat berada di kebun rakyat. Namun, salah satu penyebab rendahnya produktivitas adalah penggunaan benih ilegitim, karenanya di TKS ini kami bawa produsen kecambah,” ujar Hendra.
Siswanto selaku Wakil Ketua GAPKI Kalteng menyampaikan bahwa saat ini petani sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. "Tantangan globalisasi dan teknologi merupakan tantangan yang musti kita selaraskan dalam meningkatkan produktivitas di industri kelapa sawit. Kami berterima kasih kepada Media Perkebunan bisa mengadakan kali kedua acara ini semoga bisa mendapatkan manfaat dan masukan yang sangat berharga sebagai acuan untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit baik di perusahaan maupun khususnya petani rakyat," ujar Siswanto.
Bupati Kotawaringin Barat (Kobar), Hj. Nurhidayah, S.H., M.H., hadir membuka acara dan memberikan semangat untuk para petani rakyat yang hadir dan mengaku antusias menghadiri acara TKS kedua di Pangkalan Bun. "Kami dari pihak pemerintah dan petani sawit Kobar menyambut baik acara ini yang membawa banyak masukan apalagi ada pameran penggunaan produk dan banyak informasi yang ditunggu petani kelapa sawit yang menjadi primadona. Diskusi ini akan memberikan akses bicara khususnya untuk petani sawit yang ada di Kobar," ujarnya pada hari Selasa (28/04/2026) di Mercure Pangkalan Bun.
Bupati Nurhidayah menyampaikan bahwa kelapa sawit menjadi penopang ekonomi Kobar dengan hampir 60 persen masyarakat bergantung dengan kelapa sawit sehingga diperlukan suatu upaya untuk pengembangan ekonomi daerah. Dalam sambutannya, ia juga mempertegas mengenai pengarusutamaan gender (PUG), perlindungan pekerja perempuan, pencegahan pekerja anak, dan upah buruh perkebunan yang layak.
Selain seminar dan pameran teknologi, peserta TKS 2026 juga mengikuti field trip atau kunjungan lapangan ke PT Sukses Karya Mandiri (SKM). Dalam sesi field trip pada hari Kamis (30/04/2026), peserta diajak melihat langsung proses pengolahan palm kernel hingga menjadi crude palm kernel oil (CPKO) dan palm kernel expeller (PKE). M. Faozy Saputra, Asisten Proses Kernel Crushing Plant (KCP), menjelaskan bahwa proses dimulai dari penerimaan bahan baku dengan standar mutu tertentu.
“Palm kernel yang kami terima memiliki standar kadar air 8 persen dan kotoran 8 persen. Setelah itu ditimbang dan disimpan sementara di kernel bunker dengan kapasitas 750 ton sebelum masuk ke proses pengolahan,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebelum diproses lebih lanjut, kernel akan melalui tahap pemisahan menggunakan magnetik untuk menghilangkan benda asing seperti besi, kawat, maupun batu. Tahap ini penting untuk menjaga kualitas produk sekaligus melindungi mesin produksi.
Selanjutnya, kernel dipanaskan untuk menurunkan kadar moisture dari 8 persen menjadi sekitar 5 persen. Setelah itu, dilakukan proses pengepresan dua tahap untuk menghasilkan minyak inti sawit (PKO) dan bungkil (PKE).
Selain inovasi di sisi produk, PT SKM juga menunjukkan komitmen kuat terhadap aspek keberlanjutan melalui pemanfaatan limbah cair sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) menjadi energi terbarukan.
Melalui field trip ini, peserta TKS 2026 mendapatkan gambaran nyata bahwa integrasi antara efisiensi operasional, inovasi teknologi, dan prinsip keberlanjutan bukan sekadar konsep, tetapi sudah dapat diimplementasikan secara konkret di lapangan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Aditya Yohan





