
Pantau - Warga Kampung Cihiyang, Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, Banten memanfaatkan limbah pelapah kelapa sawit menjadi krey atau tirai tradisional untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga.
Pelapah sawit yang sebelumnya dianggap limbah kini diolah menjadi produk bernilai jual dan menjadi sumber penghasilan masyarakat sekitar perkebunan sawit PTPN III Cisalak.
Krey sawit digunakan sebagai penahan terik matahari dan tampias hujan di rumah maupun warung.
Kampung Cihiyang sebelumnya dikenal sebagai salah satu kantong kemiskinan di sekitar pusat pemerintahan Kabupaten Lebak.
Sebagian besar warga dahulu bekerja sebagai buruh tani, pekerja serabutan, atau kuli bangunan dengan penghasilan di bawah Rp1 juta per bulan.
Kondisi ekonomi yang sulit membuat banyak anak warga terpaksa putus sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan menengah pertama.
Kini kondisi kampung perlahan berubah dengan meningkatnya pendapatan masyarakat dari usaha kerajinan krey sawit.
Rumah semi permanen mulai berdiri, kendaraan bermotor dimiliki warga, dan anak-anak dapat melanjutkan pendidikan hingga SMA bahkan bercita-cita kuliah.
Perajin Krey Sawit Raup Penghasilan Jutaan Rupiah
Salah satu perajin, Nursaad, mengaku usaha krey sangat membantu perekonomian keluarganya.
"Kami sangat terbantu dengan usaha krey ini. Sekarang hidup lebih tenang dan anak-anak bisa sekolah," kata Nursaad.
Nursaad telah menekuni usaha krey selama 13 tahun bersama istrinya dengan memanfaatkan pelapah sawit yang sebelumnya dibuang sebagai sampah perkebunan.
Dari lima anak Nursaad, tiga telah berkeluarga, satu telah lulus SMK dan bekerja, sedangkan anak bungsunya masih bersekolah di SMK.
Sebelum menjadi perajin krey, Nursaad bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan tidak menentu sehingga tiga anaknya sempat putus sekolah.
"Kalau dulu, hidup benar-benar susah. Sekarang alhamdulillah lebih baik," ujar Nursaad.
Dalam sehari, keluarga Nursaad mampu membuat sekitar lima lembar krey dengan harga Rp30 ribu per lembar.
Dari usaha tersebut, keluarga Nursaad bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp150 ribu per hari atau Rp4,5 juta per bulan.
Perajin lain, Mulyadi dan istrinya Sa’adah, juga menggantungkan hidup dari anyaman pelapah sawit selama 10 tahun terakhir.
Sebelum menjadi perajin, Mulyadi bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu.
Kini usaha krey membantu keluarga mereka memenuhi kebutuhan pangan dan menyekolahkan dua anak hingga SMP dan SMA.
"Kami bersyukur bahan bakunya mudah didapat karena pelapah sawit di sini melimpah," ungkap Mulyadi.
Usaha Krey Sawit Dorong Pengentasan Kemiskinan di Lebak
Perkembangan usaha krey di Lebak tidak lepas dari peran Toto yang pertama kali memperkenalkan usaha tersebut di Kampung Cihiyang pada 2010.
Toto sebelumnya mengenal usaha krey sawit saat bekerja di Palembang, Sumatera Selatan.
Ia kemudian melatih warga mengolah pelapah sawit menjadi krey bernilai ekonomi dan kini menjadi salah satu penampung hasil produksi warga.
Produk krey dari Lebak dipasarkan ke Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Permintaan krey meningkat dalam dua tahun terakhir seiring tingginya curah hujan dan kebutuhan penutup teras maupun ruangan.
"Sekarang permintaan cukup besar. Kami bisa memasok sekitar 10 ribu lembar per bulan," kata Toto.
Dengan harga Rp30 ribu per lembar, perputaran uang dari satu jaringan penampung mencapai sekitar Rp300 juta per bulan.
Saat ini terdapat sekitar 290 perajin yang tergabung dalam paguyuban dan tersebar di Desa Rangkasbitung Timur hingga Pasir Tanjung.
Secara keseluruhan, usaha krey dan sapu lidi di Kabupaten Lebak disebut menghasilkan perputaran uang miliaran rupiah setiap bulan.
Pemerintah Kabupaten Lebak menilai usaha berbasis limbah sawit tersebut menjadi salah satu cara nyata untuk mengurangi kemiskinan ekstrem.
Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki mengatakan pemerintah daerah berkomitmen menurunkan angka kemiskinan hingga 2029 sesuai Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang penghapusan kemiskinan ekstrem.
Berdasarkan data Bapperida Kabupaten Lebak tahun 2024, terdapat 5.698 kepala keluarga atau sekitar 30.115 jiwa yang masih berada dalam kategori miskin ekstrem.
Pemerintah daerah terus mendorong program pemberdayaan ekonomi masyarakat termasuk pengembangan UMKM berbasis limbah sawit seperti krey dan sapu lidi.
Saat ini terdapat sekitar 500 unit usaha krey dan sapu lidi di sejumlah kecamatan seperti Rangkasbitung, Maja, Cimarga, Cileles, Banjarsari, dan Leuwidamar.
Rata-rata pelaku usaha memperoleh pendapatan sekitar Rp3 juta per bulan dengan total perputaran uang diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar setiap bulan.
"Kami meyakini pendapatan itu bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menghapus kemiskinan," ujar Mochamad Hasbi Asyidiki.
- Penulis :
- Gerry Eka





