
Pantau - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu sore melemah 29 poin atau 0,16 persen dan ditutup di level Rp17.888 per dolar AS di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada 2026.
Ekspektasi The Fed Tekan Pergerakan Rupiah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh tingginya ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed pada 2026.
Ia mengungkapkan, "Ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada tahun 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak yang tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama."
Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas sebesar 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan pekan depan.
Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September berada di kisaran 68 persen.
Peningkatan ekspektasi tersebut dipicu oleh konflik militer yang terus berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki hari ke-11.
Investor juga terus memantau pergerakan Houthi Yaman yang mengancam melakukan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah.
Ancaman tersebut membuat sejumlah kapal tanker minyak mengubah rute pelayaran sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap ekspor dari salah satu pemasok minyak mentah terbesar di dunia.
Ia mengungkapkan, "Ancaman blokade ini muncul ketika lalu lintas maritim telah terganggu oleh permusuhan di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global, yang menambah kekhawatiran bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat semakin mengurangi pasokan yang tersedia dan meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi."
Bank Indonesia Pertahankan BI-Rate
Dari sisi domestik, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,5 persen.
Dengan mempertahankan suku bunga acuan, Bank Indonesia mendorong kebijakan lain berupa pemberian insentif guna meningkatkan arus modal asing ke pasar uang Indonesia sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ibrahim Assuaibi mengatakan, "BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas."
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini bergerak datar di level Rp17.909 per dolar AS, tidak berubah dibandingkan posisi hari sebelumnya.
- Penulis :
- Arian Mesa





