
Pantau - Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat sistem deteksi dini menyusul munculnya kasus Hantavirus di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, tercatat sedikitnya 23 kasus Hantavirus dengan tiga kematian dalam tiga tahun terakhir yang tersebar di sembilan provinsi.
“Walaupun jumlah kasusnya belum besar, tingkat fatalitas yang mencapai 13 persen tidak boleh dianggap ringan. Pemerintah harus bergerak cepat memperkuat deteksi dini, surveillance, dan edukasi kesehatan masyarakat,” ungkap Netty dalam keterangannya, Jumat (9/5).
Ia menjelaskan Hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus melalui urine, kotoran, air liur, atau debu yang terkontaminasi dan terhirup manusia.
Gejala Hantavirus Disebut Mirip Flu Biasa
Netty mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala awal Hantavirus yang sering menyerupai flu biasa.
Menurut dia, gejala tersebut meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, mual, muntah, hingga sesak napas.
“Karena gejalanya mirip penyakit umum lainnya, masyarakat sering terlambat menyadari. Padahal jika kondisi memburuk, Hantavirus dapat menyerang paru-paru maupun organ tubuh lainnya dan berisiko fatal,” ujarnya.
Ia menilai penyebaran Hantavirus berkaitan erat dengan sanitasi lingkungan yang buruk, pengelolaan sampah yang tidak optimal, serta tingginya paparan tikus di lingkungan padat penduduk.
DPR Dorong Edukasi dan Penguatan Fasilitas Kesehatan
Netty meminta Kementerian Kesehatan memperkuat sistem surveillance epidemiologi dan meningkatkan kesiapan fasilitas kesehatan di daerah yang telah teridentifikasi kasus Hantavirus.
“Tenaga kesehatan perlu mendapatkan penguatan kapasitas agar mampu mengenali gejala secara cepat, melakukan diagnosis dini, serta mencegah keterlambatan penanganan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kesehatan kepada masyarakat agar tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan.
“Edukasi harus masif. Masyarakat perlu memahami bahwa penularan dominan berasal dari tikus dan lingkungan yang terkontaminasi,” jelasnya.
Netty turut mendorong penguatan koordinasi lintas sektor bersama pemerintah daerah dalam pengendalian populasi tikus, perbaikan sanitasi, dan pengelolaan sampah.
“Kita tidak boleh menunggu kasus membesar baru bertindak. Prinsip kesehatan masyarakat adalah mencegah sebelum menjadi wabah,” pungkasnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





