HOME  ⁄  Nasional

BI Yakin Rupiah Akan Stabil dan Menguat Meski Sentuh Rp17.500 per Dolar AS

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BI Yakin Rupiah Akan Stabil dan Menguat Meski Sentuh Rp17.500 per Dolar AS
Foto: (Sumber: Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjawab pertanyaan media dalam wawancara cegat (doorstop) usai Press Statement Pemusnahan Uang Palsu di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (13/5/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa))

Pantau - Bank Indonesia (BI) tetap meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat meski saat ini sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat akibat tekanan global dan domestik.

BI Perkuat Langkah Stabilitas Rupiah

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dibandingkan banyak negara lain sehingga rupiah diyakini mampu kembali menguat.

“Seperti yang disampaikan Pak Gubernur BI, kami tetap meyakini dengan langkah-langkah yang dilakukan rupiah akan stabil dan cenderung menguat. Karena kita meyakini fundamental ekonomi Indonesia itu sangat baik dibandingkan dengan negara-negara yang lain,” kata Ramdan di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu.

BI terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar dengan memantau pasar keuangan global hingga pasar Eropa dan Amerika Serikat.

“Begitu pasar Jakarta tutup, kita standby di pasar Eropa, kemudian standby di pasar Amerika, untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Selain intervensi pasar, BI juga menjalankan enam strategi tambahan seperti memperkuat struktur suku bunga SRBI, membeli Surat Berharga Negara di pasar sekunder, menjaga likuiditas pasar uang dan perbankan, hingga memperkuat pengawasan pembelian dolar AS oleh bank dan korporasi.

Tekanan Global dan Permintaan Dolar Pengaruhi Rupiah

Ramdan menjelaskan pelemahan berbagai mata uang dunia dipengaruhi dinamika global, terutama konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia serta penguatan indeks dolar AS.

“Faktor dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia itu juga melemah. Tidak hanya rupiah, ada Philippine Peso, Thailand Baht, India Rupee, Chile Peso, Korea Won,” ungkapnya.

Selain faktor global, kebutuhan dolar AS di dalam negeri juga meningkat akibat musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan masyarakat untuk ibadah umrah dan haji.

BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada April 2026 mencapai 146,2 miliar dolar AS atau turun 2 miliar dolar AS dibanding bulan sebelumnya.

Sementara itu, pada awal triwulan II 2026 aliran modal asing mencatat net inflows sebesar 3,3 miliar dolar AS yang masuk ke instrumen SRBI dan SBN.

“Kami meyakini bahwa dengan sinergi bersama BI, kementerian dan lembaga, itu mampu membuat rupiah akan stabil dan cenderung menguat,” tutur Ramdan.

Penulis :
Ahmad Yusuf