
Pantau - Wakil Ketua Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI Marwan Dasopang menegaskan Timwas Haji DPR RI Tahun 2026 akan melakukan pengawasan menyeluruh dan ketat terhadap penyelenggaraan ibadah haji, mulai dari proses keberangkatan jemaah di Indonesia hingga pelaksanaan puncak ibadah di Armuzna, yakni Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Pernyataan tersebut disampaikan Marwan dalam Rapat Tim Pengawas Haji DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (13/5/2026).
Pengawasan Dilakukan Sejak Jemaah Berangkat
Marwan menegaskan pengawasan DPR harus berbasis temuan lapangan yang nantinya menjadi bahan evaluasi nasional penyelenggaraan haji 2026.
“Yang menjadi perhatian kita sebetulnya bukan saja di Makkah dan Madinah, tetapi sejak dari sini jemaah berangkat. Ketika jemaah mendarat di Madinah pun itu sudah menjadi catatan pengawasan kita,” kata Marwan.
Timwas Haji DPR RI tahun 2026 dibagi dalam dua gelombang keberangkatan.
Gelombang kedua dijadwalkan berangkat pada 20–21 Mei menuju Jeddah.
Tim pendukung akan melekat pada anggota Timwas untuk mendokumentasikan seluruh temuan selama pengawasan berlangsung.
Tim pendukung bertugas mencatat persoalan pelayanan, kondisi lapangan, hingga potensi masalah penyelenggaraan haji.
“Dalam pengawasan Timwas Haji DPR tidak mungkin semua temuan dicatat sendiri oleh anggota. Karena itu tim pendukung akan melekat untuk memastikan seluruh persoalan, pelayanan, dan potensi masalah tercatat dengan baik,” ujarnya.
Timwas Soroti Hotel dan Transportasi Jemaah Lansia
Pengawasan Timwas difokuskan pada sejumlah sektor vital pelayanan jemaah, meliputi akomodasi hotel, konsumsi, layanan kesehatan, dan transportasi.
Untuk sektor akomodasi, Timwas akan memastikan hotel jemaah sesuai keputusan Panitia Kerja (Panja) Haji DPR RI.
Berdasarkan keputusan Panja Haji DPR RI, hotel jemaah maksimal berjarak 4,5 kilometer dari pusat ibadah.
Namun, Timwas menemukan dugaan adanya hotel yang berjarak sekitar 13 kilometer dari Masjidil Haram.
“Ini akan menjadi objek peninjauan kita. Ada hotel yang melebihi keputusan Panja dan itu harus dicek langsung,” kata Marwan.
Timwas juga menyoroti kawasan Jabal Ka’bah yang menjadi titik penurunan jemaah dari bus.
Lokasi tersebut dinilai cukup berat bagi jemaah lanjut usia karena harus berjalan sekitar 1,5 kilometer menuju Masjidil Haram dengan kondisi jalan menanjak.
Dalam rapat tersebut, anggota Timwas mengingatkan sekitar 21 ribu jemaah lansia berpotensi terdampak kondisi tersebut.
Risiko tersebut terutama terjadi saat operasional bus shalawat dihentikan menjelang puncak ibadah haji.
- Penulis :
- Shila Glorya





