HOME  ⁄  Nasional

MDMC Sebut Resiliensi Bencana Jadi Kunci Ketahanan Pangan dan Ekonomi Jateng Selatan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

MDMC Sebut Resiliensi Bencana Jadi Kunci Ketahanan Pangan dan Ekonomi Jateng Selatan
Foto: (Sumber: Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Naibul Umam dalam suatu kegiatan diskusi di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (13/5/2026). ANTARA/Dokumentasi Pribadi.)

Pantau - Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menilai penguatan resiliensi bencana menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, dan keberlanjutan pembangunan di wilayah Jawa Tengah bagian selatan yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi.

Wakil Ketua MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah Naibul Umam mengatakan kawasan Barlingmascakeb yang meliputi Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen merupakan wilayah strategis di Jateng selatan.

Namun, menurut dia, kawasan tersebut menghadapi ancaman bencana yang kompleks mulai dari gempa megathrust, tsunami, banjir tahunan, tanah longsor, hingga kekeringan akibat fenomena El Nino.

“Jawa Tengah selatan adalah supermarket bencana Indonesia. Pertumbuhan ekonomi tanpa mitigasi risiko merupakan langkah berbahaya, karena setiap bencana mengancam pangan dan ekonomi secara langsung,” kata Naibul Umam di Purwokerto, Jumat.

Ancaman Megathrust dan Banjir Dinilai Ganggu Produksi Pangan

Naibul menjelaskan ancaman gempa megathrust dan tsunami di pesisir Cilacap dan Kebumen berpotensi mengganggu infrastruktur strategis nasional dan sentra produksi pangan.

Menurut dia, intrusi air laut akibat tsunami dapat menyebabkan salinisasi lahan pertanian sehingga sawah menjadi tidak produktif dalam waktu lama.

“Ancaman megathrust dan tsunami di kawasan ini merupakan ancaman eksistensial bagi ekonomi dan pangan nasional. Intrusi air laut dapat menyebabkan salinisasi lahan pertanian di wilayah pesisir, sehingga sawah tidak produktif selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Selain itu, banjir tahunan di Cilacap, Banyumas, dan Kebumen yang terjadi saat masa tanam maupun panen raya juga dinilai dapat memicu gagal panen dan kenaikan harga pangan.

“Banjir dapat memutus jalur distribusi, menyebabkan hasil panen rusak, dan membuat petani kehilangan modal untuk musim tanam berikutnya. Pada akhirnya, masyarakat ikut terdampak, karena harga pangan naik,” katanya.

MDMC Dorong Mitigasi dan Penguatan Sistem Ketahanan

MDMC juga menyoroti ancaman tanah longsor di kawasan dataran tinggi seperti Banjarnegara, Purbalingga, dan Banyumas bagian utara yang berpotensi merusak sentra hortikultura serta menghambat distribusi logistik.

Sementara itu, kekeringan akibat El Nino disebut sebagai bencana yang berdampak perlahan namun luas terhadap pertanian dan ekonomi masyarakat.

Naibul menilai penguatan resiliensi kawasan harus menjadi bagian dari strategi pembangunan melalui pengembangan varietas tanaman tahan bencana, optimalisasi waduk dan bendung, pembangunan sistem peringatan dini, penguatan asuransi usaha tani, hingga penerapan agroforestry.

“Biaya mitigasi mungkin terlihat mahal di awal, tetapi jauh lebih murah dibandingkan biaya pemulihan pascabencana. Resiliensi bencana bukan pilihan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan pangan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah selatan,” ujar Naibul.

Penulis :
Ahmad Yusuf