
Pantau - Kamar Dagang dan Industri Indonesia meluncurkan program Kadin AI Academy untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia nasional di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sekaligus menjembatani kesenjangan keterampilan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Peluncuran Kadin AI Academy dilakukan dalam seminar bertajuk AI and the Future of Human Capital yang berlangsung di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, pada Rabu 20 Mei 2026.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie mengatakan program tersebut diharapkan mampu mendorong pemanfaatan AI secara inklusif bagi dunia usaha, tenaga kerja, hingga pelaku UMKM di berbagai daerah.
Ia menilai penggunaan AI di kalangan pelaku usaha nasional kini semakin nyata dan mulai membentuk ekspektasi baru terhadap masa depan bisnis Indonesia.
Survei Kadin Tunjukkan Optimisme Pelaku Usaha terhadap AI
Anindya mengungkapkan berdasarkan survei Kadin Indonesia Business Pulse Q1-2026, persepsi positif pelaku usaha terhadap perkembangan teknologi, khususnya AI, mengalami peningkatan signifikan.
Pada kuartal IV 2025, sangat sedikit pelaku usaha yang menilai perkembangan teknologi sebagai faktor positif bagi bisnis mereka.
Namun dalam tiga bulan berikutnya, pada kuartal I 2026, jumlah pelaku usaha yang melihat AI sebagai sumber optimisme bisnis meningkat menjadi 22 persen.
“Pada kuartal IV 2025, nyaris sangat sedikit pelaku usaha yang disurvei menyebut perkembangan teknologi sebagai sumber perkembangan positif bagi bisnis mereka. Namun tiga bulan kemudian, di Q1-2026, angkanya melonjak menjadi 22 persen. Ada 22 persen pelaku usaha yang melihat perkembangan teknologi, khususnya AI, sebagai sumber optimisme dunia usaha,” ungkap Anindya.
Menurutnya, peningkatan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa manfaat AI mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha di Indonesia.
Kadin Tekankan AI Harus Inklusif dan Produktif
Anindya menegaskan AI kini telah menyentuh seluruh segmen ekosistem usaha mulai dari industri besar, mahasiswa dan pencari kerja, UMKM, hingga pengusaha yang sedang menata ulang alur kerja perusahaan.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan tiga prinsip utama dalam pengembangan dan adopsi AI di Indonesia.
Prinsip pertama adalah AI harus bersifat inklusif dan tidak memperlebar kesenjangan antara pihak yang sudah maju dan yang tertinggal.
Prinsip kedua adalah AI harus diposisikan sebagai teknologi yang produktif dan bukan menggantikan manusia secara penuh.
Prinsip ketiga adalah AI harus menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi nasional.
“AI harus membantu manusia Indonesia bekerja lebih cerdas, lebih cepat dan lebih berdampak,” ujar Anindya.
Ia menambahkan pemanfaatan AI menjadi penting untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
- Penulis :
- Arian Mesa





