
Pantau - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak masyarakat membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kelestarian alam melalui penerapan konsep ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari saat perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu.
Nasaruddin menegaskan ketaatan kepada Tuhan tidak hanya diwujudkan melalui ritual ibadah, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam menjaga lingkungan hidup.
"Kita menjadi seorang saleh itu bukan hanya diukur ketaatan-ketaatan saja, tetapi ketaatan itu harus diwujudkan dalam bentuk menyehatkan lingkungan. Kita tidak mungkin bisa menjadi sempurna sebagai hamba kalau lingkungan kita itu rusak," ujarnya.
Ia menjelaskan manusia memiliki dua peran utama di bumi, yakni sebagai hamba (abid) dan pemimpin (khalifah), yang keduanya membutuhkan lingkungan sehat agar dapat berjalan seimbang.
Tekankan Hubungan Manusia dengan Alam
Menag yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal itu menyoroti pentingnya menjaga hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah), sesama manusia (hablum minannas), serta hubungan dengan alam dan makhluk hidup (hablum ma'al makhluqat).
Menurut dia, konsep tersebut menjadi dasar dalam membangun kesadaran lingkungan yang lebih kuat di tengah masyarakat.
"Bagaimana kita bisa khusyuk shalat kalau ada banjir? Jadi alam ini jangan hanya dijadikan semacam objek saja, tapi harus dianggap juga sebagai subjek dan sekaligus objek. Karena tanpa alam semesta kita tidak mungkin pernah menjadi manusia yang ideal," kata Nasaruddin.
Khutbah Idul Adha Angkat Tema Lingkungan
Pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan juga disampaikan dalam khutbah Idul Adha bertajuk "Meneguhkan Spirit Qurban, Merawat Alam dan Kemanusiaan" yang dibawakan Rektor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Hamdan Juhannis.
Nasaruddin menilai gagasan ekoteologi tersebut relevan agar masyarakat tidak lagi memandang alam semesta hanya sebagai objek eksploitasi.
Ia juga mengungkapkan pihaknya akan memperbanyak salinan naskah khutbah tersebut karena banyak tokoh dan pejabat yang ingin mempelajarinya kembali.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





