HOME  ⁄  Nasional

Jawa Timur Jadi Tumpuan Swasembada Gula Nasional, Program Peremajaan Tebu Digenjot

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Jawa Timur Jadi Tumpuan Swasembada Gula Nasional, Program Peremajaan Tebu Digenjot
Foto: (Sumber : Arsip - Buruh tebang mengangkut tebu di lahan yang sebelumnya merupakan lahan sayuran di Sumberkradenan, Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (5/5/2026). Pemerintah berupaya mencapai target produksi gula nasional pada 2026 yakni sekitar 3,04 juta ton melalui perluasan areal tanam serta peningkatan produktivitas dalam rangka mendukung swasembada gula. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/hma).)

Pantau - Jawa Timur kembali menjadi tumpuan utama target swasembada gula nasional 2026 setelah mencatat produksi gula kristal putih sekitar 1,34 juta ton pada 2025, tertinggi dalam satu dekade dan menyumbang lebih dari separuh produksi gula nasional.

Produksi Gula Meningkat, Peremajaan Tebu Dipercepat

Aktivitas musim giling tebu mulai meningkat di sejumlah daerah sentra gula seperti Kediri, Situbondo, Malang, dan Magetan dalam beberapa pekan terakhir.

Pemerintah pusat dan daerah mendorong peningkatan produktivitas melalui program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu di berbagai wilayah.

Program tersebut dijalankan untuk mendukung target swasembada gula konsumsi nasional yang ditetapkan pada 2026.

Jawa Timur ditempatkan sebagai daerah strategis karena masih menjadi penghasil gula terbesar di Indonesia.

Perluasan lahan tanam serta penggunaan varietas unggul juga terus didorong guna meningkatkan produksi dan kualitas tebu.

Tantangan Rendemen dan Modernisasi Industri

Di tengah peningkatan produksi, industri gula nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait efisiensi pabrik dan produktivitas tanaman.

Sejumlah pabrik gula di Jawa Timur telah melakukan revitalisasi, namun sebagian masih menghadapi keterbatasan efisiensi pengolahan.

Rendemen tebu di beberapa pabrik masih berada pada kisaran 7 hingga 8 persen.

Kondisi tersebut berarti dari setiap 100 kilogram tebu yang digiling, jumlah gula yang dihasilkan masih relatif terbatas.

Faktor cuaca, kualitas bibit, sistem irigasi, serta kecepatan pengangkutan tebu menuju pabrik menjadi penentu utama tingkat rendemen.

Pemerintah kini mendorong penggunaan varietas tebu unggul yang lebih tahan terhadap kekeringan dan memiliki kandungan gula lebih tinggi.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kebun tebu sekaligus memperkuat upaya mencapai swasembada gula nasional secara berkelanjutan.

Penulis :
Ahmad Yusuf