
Pantau - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan penerapan layanan seamless corridor pada kedatangan jamaah haji Debarkasi Surabaya mampu mempercepat proses pemeriksaan keimigrasian sehingga jamaah tidak perlu mengantre lama setibanya di Tanah Air.
Pemeriksaan Iris Mata Permudah Proses Kedatangan
Khofifah mengatakan sistem digital yang diterapkan imigrasi memberikan kemudahan bagi jamaah setelah menempuh perjalanan panjang dari Arab Saudi.
Ia mengungkapkan, "Ini digital ekosistem yang disiapkan oleh pihak imigrasi luar biasa. Mereka tidak perlu mengantre, hanya melihat kamera dan iris matanya terbaca tanpa harus dicap paspornya."
Menurut Khofifah, layanan tersebut sangat membantu jamaah karena seluruh proses pemeriksaan berlangsung lebih cepat dan praktis.
Ia juga mengaku baru pertama kali melihat layanan keimigrasian yang mampu memproses penumpang dalam jumlah besar dengan waktu yang singkat.
Khofifah menyambut langsung kedatangan kloter pertama jamaah haji asal Kabupaten Probolinggo di Asrama Haji Surabaya pada Senin malam.
Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena jamaah tiba dalam kondisi sehat setelah menuntaskan rangkaian ibadah haji.
"Mudah-mudahan semua hajinya mabrur dan mabrurah. Mereka datang dalam keadaan segar dan seluruh perjalanan dipermudah Allah SWT," ujarnya.
Imigrasi Klaim Proses Lebih Cepat dan Akurat
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Timur Novianto Sulastono menjelaskan Immigration Seamless Process Corridor Gate menggunakan teknologi identifikasi iris mata untuk mencocokkan data penumpang dengan manifes penerbangan.
Ia mengatakan, "Melalui pemeriksaan iris mata, seseorang yang terdaftar sebagai penumpang dalam penerbangan akan langsung terbaca datanya. Jadi mereka cukup memegang paspor saja dan data perlintasannya sudah tercatat."
Menurut Novianto, sebanyak 378 jamaah haji dalam satu penerbangan dapat diproses dalam waktu kurang dari 40 menit menggunakan sistem tersebut.
Waktu tersebut jauh lebih cepat dibandingkan sistem manual yang sebelumnya membutuhkan dua hingga tiga jam untuk satu kloter.
Ia juga menyebut tingkat akurasi sistem mencapai 99,9 persen karena hanya dua hingga tiga jamaah yang memerlukan pemeriksaan manual.
Novianto mengungkapkan, "Di Surabaya ini yang pertama. Sebelumnya sudah berjalan di Soekarno-Hatta dan sekarang diterapkan di Surabaya yang langsung dilakukan di Asrama Haji Surabaya."
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





